alexametrics

Belajar Online lebih Efektif

loading...
Belajar Online lebih Efektif
Belajar Online lebih Efektif
A+ A-
PENDIDIKAN di Tanah Air yang selama ini berpegang pada text book mulai tergantikan dengan produk digital. Namun, apakah belajar online lebih efektif ketimbang belajar secara tatap muka?

Seusai pulang sekolah, Rani beristirahat sebentar sebelum kemudian asyik dengan gawainya. Siswa kelas 12 di sekolah favorit di bilangan Jakarta Selatan itu bukan sedang bermain ponsel. Dia tengah berkutat dengan soalsoal eksakta yang ada di situs yang menjadi langganannya enam bulan belakangan ini. Awalnya sang ibu juga mengira Rani sibuk bermain ponsel dan melupakan belajar.

“Saya pikir dia kok main HP terus. Ternyata dia jelaskan kalau sedang belajar lewat HP. Saya bilang, ikut bimbel saja, tapi dia bilang lebih senang dengan belanja online dan hasil rapornya juga tidak mengecewakan,” papar Dina, ibu dua anak ini.

Rani mengaku, belajar online memberinya banyak kemudahan. Soal-soal yang diberikan cukup menantang, tapi penjelasannya mudah dipahami dan disertai video. “Kita seperti belajar di bimbel saja, lebih hemat biaya dan waktu. Saya cocok cara belajar seperti ini,” urainya.

Ya , startup bidang pendidikan atau education technology (ed t ech ) mulai bermunculan saat ini. Mereka memberikan banyak perubahan pada proses belajarmengajar di Indonesia. Sebagai salah satu inovasi yang lahir karena keberadaan edtech , sistem blended learning atau kegiatan belajarmengajar yang mengintegrasikan pembelajaran online dengan pembelajaran tradisional di ruang kelas bisa menjadi salah satu jalan keluar dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Menurut data Google Analytics, pada 2017 saja tercatat bahwa Zenius Education, salah satu platform bimbingan belajar online , telah membantu lebih dari 10 juta siswa di Indonesia. Perusahaan ini telah menciptakan 74.000 lebih video belajar online dengan total view er s mencapai lebih dari 300 juta. Yang menarik, berbeda dengan pengajaran konvensional, situs-situs belajar online yang ada hadir dengan materi belajar yang berfokus pada pemahaman konsep dan penalaran ilmiah.

Hal ini menjadi solusi belajar di Tanah Air yang selama bertahun-tahun terbiasa dengan menghafal materi dan cenderung tidak didorong untuk bertanya. “Zenius Education bertekad mengubah pola pikir pelajar Indonesia untuk mengerti suatu konsep ilmu ketimbang menghafal, dan sesuai dengan jiwa ilmiah itu sendiri, yaitu membangun rasa keingintahuan,” tutur founder Zenius Education, Sabda PS.

Apakah Efektif?

Lantas, apakah sistem belajar secara online efektif bagi setiap orang? Tom Snyder, President of Ivy Tech Community College, mengatakan, siswa terlebih dahulu harus memastikan apakah opsi belajar online sesuai bagi mereka. “Sebab, tidak semua orang cocok dengan tipe belajar online ,” katanya dikutip Huffpost.com.

Untuk itu, ada beberapa pertanyaan potensial yang bisa siswa tanyakan kepada diri sendiri. Misalnya, apakah dia dapat memanfaatkan waktu dengan baik, terbiasa menggunakan komputer atau ponsel pintar, bagaimana reading comprehension -nya (kemampuan memperoleh informasi dari teks tertulis), dan apakah mampu berkomitmen untuk belajar tanpa pengawasan.

Hal itu dibenarkan psikolog klinis dan hipnoterapi, Liza Marielly Djaprie. Efektif atau tidaknya belajar online tergantung tipe belajar individu. Tipe belajar anak bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Tipe visual, misalnya, bisa menyerap pelajaran lebih baik dengan melihat. Mereka lebih suka melihat atau membaca terlebih dulu sebelum belajar hal-hal baru.

Sementara tipe belajar auditori, anak harus mendengarkan pelajaran untuk memahaminya. Adapun anak dengan tipe belajar kinestetik, tidak bisa hanya duduk tenang dan menunggu informasi disampaikan. Mereka tertarik mencari sendiri halhal yang ingin mereka tahu tanpa harus selalu membaca buku panduan.

“Kalau anaktipebelajarvisual, melihat gambardikomputer cukup. Beda dengantipekinestetikdanauditori. Dipsikologi, kamipercayatidakadaanakyang bodoh, hanyapendekatannya yangharustepat,” ujaribuempat anakini. Karena itu, Liza memberi saran untuk mencoba lebih dulu cara belajar online tersebut. Jika dinilai cocok, siswa bisa meneruskannya. Orang tua juga harus memperhatikan kebiasaan siswa belajar online dan apakah efektif dengan cara belajar tersebut.
(don)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top