alexametrics

Yomi, Teknologi Baru Kedokteran Gigi

loading...
Yomi, Teknologi Baru Kedokteran Gigi
Foto/Neocis.com
Perusahaan Neocis asal Amerika Serikat (AS) telah mengembangkan sistem robotik pertama untuk operasi implan gigi yang diberi nama Yomi. Yomi memberikan panduan robot haptik untuk menambah keahlian klinis tim dokter gigi dan memberikan presisi bedah yang berulang.

Yomi sudah mengantongi izin dari Departemen Obat dan Makanan AS (FDA) sebagai pembantu tim medis menjalankan tugasnya. Pemberian izin ini dapat memperluas sistem Yomi untuk memberikan implan lengkung penuh dalam kasus edentulous atau melibatkan gigi yang hilang.



Perusahaan itu telah menerima dana dari Mithril Capital Management, Norwest Venture Partners, dan pelopor industri bedah robot Fred Moll. Mereka berharap suntikan dana yang diberikan mampu memperkuat teknologi kedokteran gigi di AS. (Baca: Satu Desa Dihancurkan, Israel Paksa Satu Desa Pergi)

“Dengan izin ini, dokter gigi dapat memanfaatkan teknologi robot untuk merawat lebih banyak pasien dan memulihkan lebih banyak senyum,” kata Alon Mozes, Ph.D. dan CEO Neocis, dikutip dari Therobotreport.



Neocis mengklaim bahwa Yomi adalah platform bedah robot pertama yang mendapat persetujuan dari FDA untuk industri gigi. Yomi adalah sistem navigasi terkomputerisasi yang bertujuan untuk membantu fase perencanaan (pra-operasi) dan fase bedah (intra-operasi) implantasi gigi.

Perusahaan menjelaskan bahwa sistem Yomi memungkinkan ahli bedah untuk merencanakan prosedur implantasi sebelum operasi dan memberikan panduan navigasi instrumen bedah. Yomi lebih dikhususkan pada pasien dewasa, dimana sebagian atau sepenuhnya edentulous memenuhi syarat untuk implan gigi.

Sistem Yomi menawarkan panduan fisik yang akurat melalui teknologi robot haptic dan membatasi latihan dalam posisi, orientasi, maupun kedalaman. Teknologi ini dapat memberi akses penuh kepada ahli bedah yang memungkinkan untuk melakuan visualisasi dengan jelas tetapi tidak seperti panduan bedah plastik.

Yomi dapat digunakan untuk implan gigi flapless, yang merupakan jenis pendekatan bedah invasif minimal. Pendekatan tanpa cacat telah terbukti mengarah pada operasi lebih cepat, pemulihan lebih cepat dan lebih sedikit rasa sakit bagi pasien. Sistem Robotika Yomi telah digunakan untuk menempatkan lebih dari 2.000 implan gigi di AS. (Baca juga: Tukang Jagal Tewas di Atas Domba yang Disembelih)

Pemimpin praktik bedah mulut dan maksilofasial di Durham, Inggris, Dr. Uday Reebye, M.D., DMD, mengatakan bahwa munculnya protokol lengkung penuh Yomi adalah perubahan dramatis dalam operasi implan gigi. Ia juga menjadi bagian dari penelitian sistem Yomi yang mendukung izin FDA.

“Pengurangan waktu untuk operasi, peningkatan efisiensi dan akurasi bedah dikombinasikan dengan pendekatan invasif minimal telah membuat protokol lengkung penuh Yomi menjadi standar terbaik,” katanya.

Reebye mengungkapkan bahwa sistem yomi dapat menyelesaikan operasi lengkung penuh dengan rata-rata 21 menit. Ini lebih cepat dan lebih efisien daripada sistem manual yang digunakan selama ini.

Disisi lain, dokter bedah mulut di AS, Dr. Scotty Bolding, DDS, MS, merasa terkesan dengan keakuratan panduan robotik Yomi pada pasien yang sepenuhnya edentulous. Ini dapat dikatakan sebagai kasus pertama edentulous dengan bantuan robot sepenuhnya. (Lihat videonya: Puluhan Orang Terjaring Razia Masker di Jakarta Pusat)

“Mesin itu sangat stabil, mudah digunakan, dan sangat akurat. Selain itu, ada visibilitas yang sangat baik di bidang bedah yang tidak bisa Anda dapatkan dengan panduan yang tersedia selama ini,” katanya.

Bolding sudah tidak ragu lagi dalam menetapkan standar (operasi gigi) untuk kasus multiimplan di masa depan melalui sistem Yomi. Selama 30 tahun pratek bedah gigi, ia belum pernah mendapatkan pengalaman seperti menggunakan sistem Yomi.

“Saya tidak pernah mengalami ketepatan atau akurasi yang ditunjukkan dengan belat lengkung penuh yang baru,” tambahnya. (Fandy)
(ysw)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
KOMENTAR ANDA
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak