alexametrics

Pesawat Mata-Mata Bikinan Boeing, Mampu Terbang Lima Kali Kecepatan Suara

loading...
Pesawat Mata-Mata Bikinan Boeing, Mampu Terbang Lima Kali Kecepatan Suara
Pesawat mata-mata buatan Boeing pengganti Blackbird SR-71. FOTO/BOEING
A+ A-
BOEING telah menguak suksesor pesawat mata-mata legendaris Blackbird SR-71 yang mampu terbang lima kali kecepatan suara. Pesawat berjuluk The Son of Blackbird itu dipamerkan kepada masyarakat di Orlando, Florida. Namun, sejauh ini, Blackbird SR-71 masih sebatas konsep dan baru akan beroperasi pada masa depan.

Pesawat baru itu akan menjadi pesaing utama SR-71 pabrik Lockheed Martin. Kedua perusahaan berlomba menciptakan pesawat hipersonik yang mampu terbang tanpa terdeteksi radar saat akan menjalankan misi penyerangan. Boeing menyatakan, pembuatan Blackbird SR-71 akan melalui dua tahap pengembangan.

"Tahap pertama ialah melakukan uji coba penerbangan dengan mesin tunggal dan badan pesawat sebesar F-16. Setelah berhasil, kami akan lanjut ke tahap kedua, yakni menciptakan pesawat operasional skala penuh dengan mesin kembar dan berdimensi 32,6 meter. Kecepatannya Mach 5," ungkap Boeing, dikutip The Sun.

Kecepatan suara atau Mach 1 ialah sekitar 1.235 kilometer per jam. Dengan demikian, Blackbird SR-71 akan terbang dengan kecepatan 6.174 kilometer per jam. Sebagai pembanding, pesawat itu akan jauh lebih cepat dari jet komersial 747 produksi Boeing yang memiliki kecepatan puncak sekitar 885 kilometer per jam.

Bagian yang sulit dalam pembuatan pesawat supercepat ialah menyesuaikan kemampuan pesawat itu dalam melakukan take off, akselerasi, mengerem, dan mendarat, sama seperti model aslinya pada 1964. Boeing akan menggunakan turbojet untuk mencapai kecepatan Mach 3 dan mengotak-atiknya hingga mencapai Mach 5.

Selain membuat pesawat hipersonik, Boeing juga mulai merambah misi ruang angkasa. Kapsul Dragon yang mendarat di bumi pada 13 Januari setelah mengirimkan barang ke International Space Station (ISS) juga memotivasi mereka untuk berinovasi. Kapsul Dragon dirancang khusus SpaceX untuk pengiriman barang pokok.

Jalur yang ditempuh Boeing kian jelas setelah NASA berkeinginan mengirimkan astronot ke ISS dari tanah AS. Mereka berharap Boeing atau SpaceX dapat melakukan uji coba penerbangan pesawat ruang angkasa berawak pada akhir tahun ini. Boeing akan mendemonstrasikan teknologi baru kapsul CST-100 Starliner mereka.

Boeing mengembangkan kapsul ini sejak 2010 untuk menjawab tantangan dari NASA. Uji coba CST-100 Starliner akan menentukan peran Boeing dalam misi ruang angkasa. Jika terpilih oleh NASA, Boeing akan menerima penghargaan bendera AS yang ditancapkan di ISS.

Boeing sedang mencoba yang terbaik demi impian itu. Peluang Boeing untuk memenangi perlombaan itu cukup terbuka. SpaceX telah mengalami kegagalan deployment selama misi Zuma, meski peluncuran berlangsung lancar. Sejauh ini, penyebab kegagalan itu masih belum jelas. Namun, satu pelanggan SpaceX menyalahkan kontraktor Northrup Grumman atas ke gagalan itu.

CST-100 Starliner tidak hanya dibuat untuk mengirimkan awak ke ISS, tapi juga ke stasiun luar angkasa lainnya seperti Bigelow Aerospace Commercial Space Station. Dari segi model, CST-100 Starliner mirip Orion rancangan Lockheed Martin. Kapsul itu berdiameter 4,56 meter, lebih besar sedikit dari modul komando Apollo. CST-100 Starliner dapat menampung hingga tujuh awak dan dapat mengapung di atas orbit selama tujuh bulan.

Pesawat ruang angkasa itu dapat digunakan sebanyak 10 kali. Modelnya kompatibel dengan beberapa peluncur kapsul yang sudah ada seperti Atlas V, Delta IV, Falcon 9, dan juga Vulcan yang sedang dibangun. CST-100 Starliner rencananya diluncurkan dari Atlas V 422, SLC-41 di Cape Canaveral Air Force Station, Florida.

Boeing menerima anggaran USD571 juta dari NASA dalam pengembangan pesawat itu. Uji coba penerbangan tanpa awak ke ISS akan dilakukan pada Agustus dan misi sesungguhnya baru dilakukan pada November.
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak