alexametrics

Inspiring Person

Peneliti LIPI Yuliati Herbani: Menjawab Tantangan Dunia Sains

loading...
Seperti saya ceritakan di awal, latar belakang saya hard science bidang material science nanopartikel logam yang membutuhkan bahan, alat, dan karakterisasi yang tidak murah. Dengan segala ketertinggalan teknologi kita, tren yang berkembang di kalangan peneliti Indonesia saat ini adalah back to nature, mengeksploitasi sedalam mungkin apa saja yang unik dari alam Indonesia sebagai bahan penelitian agar mampu bersaing di tingkat dunia, paling tidak dalam hal tulisan ilmiah di jurnal internasional.

Kebetulan tema-tema yang seperti ini juga yang "laku" untuk didanai di Indonesia. Beberapa kolega saya misalnya mengembangkan carbon-dot berpendar dari sampah sayur dan buah, membuat RF absorber dari paduan busa dan mikropartikel karbon sabut kelapa, atau pembuatan lapisan hidrofobik untuk cat dari bahan dasar karbon ampas kopi, dan lain-lain. Untuk kurkumin sendiri, menurut saya, belum secara maksimal digunakan sebagai pencegah kanker karena molekul kurkumin harus diekstrak terlebih dulu dari rimpang kunyit. Proses ekstraksinya panjang dan tidak murah, plus ekstraksi kurkumin dalam kunyit itu kurang lebih hanya 20% dari total massa kunyit yang diproses.



Menurut pengalaman Anda, apa suka duka menjadi peneliti?


Secara umum lebih banyak suka daripada dukanya. Mempunyai pekerjaan dan melakukan hal yang kita cintai dan dicita-citakan sejak awal, itu merupakan anugerah tersendiri yang patut disyukuri karena masih banyak yang bekerja tidak atas kehendak hati hanya karena tuntutan ekonomi, misalnya. Terlebih jika penelitian kita bisa berhasil, walau masih tahap skala lab, dan bisa menuliskan atau mengomunikasikannya dengan bangga di komunitas terkait. Ini merupakan kebahagiaan bagi saya sebagai peneliti. Pun ternyata fungsi pengajaran juga melekat pada diri peneliti ketika ada mahasiswa-mahasiswa tugas akhir yang mengadakan penelitian di lab kita.

Hubungan intens walau periodenya tidak lama (maksimum enam bulan), kombinasi satu-satu ini lebih cocok bagi saya daripada harus berdiri di depan kelas. Mungkin untuk manfaat nyata di masyarakat dari penelitian kita masih jauh. Namun sedikit kontribusi kebaruan sepatutnya dikomunikasikan agar komunitas terkait bisa mengambil langkah selanjutnya dan agar manfaat finalnya bisa terasa di masyarakat. Toh tidak harus selalu dari tangan kita semua output-nya bisa lewat tangan orang lain.

Sementara dukanya lebih terkait dalam hal di mana penelitian kita berjalan tidak seperti ekspektasi/hipotesis di awal. Banyak hal yang tidak sesuai teori. Terlebih kurangnya keberadaan kolega diskusi masalah terkait, dukungan akses literatur yang memadai menambah duka semakin dalam dan akhirnya mentok deh penelitian kita.



Apa tantangan menjadi peneliti?


Tantangan terbesar jadi peneliti, terutama peneliti bidang hard science seperti saya, adalah ide penelitian itu sendiri. Sementara peneliti di Indonesia dituntut ganda, berkarya buat masyarakat (science for society) dengan orientasi produk sekaligus berkarya untuk keilmuannya (science for science) dengan orientasi publikasi jurnal terindeks global yang dijadikan indikasi utama kinerja peneliti.

Bayangkan, kita tertinggal 75 tahun dari negara-negara maju lain. Rata-rata apa yang kita kerjakan (dan yang bisa dikerjakan) di Indonesia adalah hal yang sudah dilakukan di negara-negara tersebut. Untuk tujuan science for science saja kita harus sekreatif mungkin bisa mencari celah-celah kebaruan demi tembusnya jurnal ilmiah terindeks global.

Namun artinya ide kreatif ini belum tentu bisa terealisasi dalam bentuk produk siap pakai di masyarakat karena idenya benar-benar baru, misalnya. Di sisi lain, jika orientasinya adalah science for society, artinya kita mengulang teknologi yang sudah ada, yang sudah established di luar negeri, dan menampilkan segi kebaruan tadi. Cukup sulit menjalankan kedua hal tersebut secara selaras dan saling menunjang jika tuntutan dari pemerintah tetap sama.

Bagaimana pendapat Anda mengenai peneliti di Indonesia saat ini dan sudahkah dimanfaatkan maksimal untuk kepentingan masyarakat luas?

Menyambung pertanyaan sebelumnya, kami sebagai peneliti berada dalam himpitan dua tuntutan. Dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan yang ada, kami selalu berusaha ada porsi untuk diseminasi dalam bentuk produk yang bermanfaat di masyarakat, walau tidak sejalan dengan core penelitian kami. Semisal produk-produk seperti planetary ball mill, insenerator sampah, pengolahan air banjir, penghancur jarum suntik, yang telah diproduksi Puslit Fisika LIPI, bukanlah sesuatu yang terlahir dari penelitian para penelitinya, tetapi lebih pada kemampuan memproduksinya saja.

Teknologinya sudah ada dan jejeg. Bukan suatu yang unik di mata dunia penelitian, namun karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat di Indonesia, maka kami melakukannya. Hasil-hasil penelitian yang murni/unik secara sains sepertinya masih jauh dimanfaatkan secara maksimal. Terbukti begitu banyak paten terdaftar di Indonesia yang belum juga keluar lisensinya. Artinya belum ada pemakai atau stakeholder -nya.
halaman ke-1 dari 3
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak