alexametrics

Inspiring Person

Peneliti LIPI Yuliati Herbani: Menjawab Tantangan Dunia Sains

loading...
Namun artinya ide kreatif ini belum tentu bisa terealisasi dalam bentuk produk siap pakai di masyarakat karena idenya benar-benar baru, misalnya. Di sisi lain, jika orientasinya adalah science for society, artinya kita mengulang teknologi yang sudah ada, yang sudah established di luar negeri, dan menampilkan segi kebaruan tadi. Cukup sulit menjalankan kedua hal tersebut secara selaras dan saling menunjang jika tuntutan dari pemerintah tetap sama.

Bagaimana pendapat Anda mengenai peneliti di Indonesia saat ini dan sudahkah dimanfaatkan maksimal untuk kepentingan masyarakat luas?
Menyambung pertanyaan sebelumnya, kami sebagai peneliti berada dalam himpitan dua tuntutan. Dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan yang ada, kami selalu berusaha ada porsi untuk diseminasi dalam bentuk produk yang bermanfaat di masyarakat, walau tidak sejalan dengan core penelitian kami. Semisal produk-produk seperti planetary ball mill, insenerator sampah, pengolahan air banjir, penghancur jarum suntik, yang telah diproduksi Puslit Fisika LIPI, bukanlah sesuatu yang terlahir dari penelitian para penelitinya, tetapi lebih pada kemampuan memproduksinya saja.

Teknologinya sudah ada dan jejeg. Bukan suatu yang unik di mata dunia penelitian, namun karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat di Indonesia, maka kami melakukannya. Hasil-hasil penelitian yang murni/unik secara sains sepertinya masih jauh dimanfaatkan secara maksimal. Terbukti begitu banyak paten terdaftar di Indonesia yang belum juga keluar lisensinya. Artinya belum ada pemakai atau stakeholder -nya.

Kalau perempuan peneliti di Indonesia bagaimana?

Mengenai perempuan peneliti, saya bersyukur apresiasi pemerintah dan masyarakat Indonesia maupun dunia semakin lama semakin meningkat. Khususnya kesediaan porsi-porsi khusus dalam hal pendanaan riset dan beasiswa bagi perempuan peneliti. Hal ini cukup memotivasi perempuan peneliti yang sudah ada untuk terus berkarya, mengimbangi dominasi kaum pria (rasio 46:54 untuk kondisi di Indonesia) dan juga bagi kaum wanita pada umumnya untuk bercita-cita menjadi peneliti. Pun atmosfer apresiasi ini dirasakan berdampak pada perubahan iklim kerja peneliti di mana peneliti perempuan diberi ruang dan kesempatan seluas-luasnya untuk menjadi leader dalam suatu kegiatan riset.
(amm)
halaman ke-2 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak