alexametrics

Tim Mahasiswa Indonesia Buru Tiket Grand Final Mobil Hemat Energi

loading...
Tim Mahasiswa Indonesia Buru Tiket Grand Final Mobil Hemat Energi
Tim Mahasiswa Indonesia Buru Tiket Grand Final Mobil Hemat Energi/Shell for SINDONEWS
A+ A-
SINGAPURA - Shell Eco-Marathon Asia edisi kesembilan menjadi awal dimulainya Make the Future Singapore 2018. Ajang adu mobil hemat energi itu diikuti 122 tim mahasiswa dari 18 negara di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah.

Sebanyak 26 tim mahasiswa dari Indonesia juga turut unjuk kepintaran dalam menciptakan mobil hemat energ. Dalam ajang tersebut,
tim-tim mahasiswa berkompetisi dengan kendaraan ciptaan mereka untuk meraih gelar kendaraan paling hemat energi.
Tim Mahasiswa Indonesia Buru Tiket Grand Final Mobil Hemat Energi
Sebagai salah satu kompetisi dunia yang tertua untuk mahasiswa, Shell Eco-marathon merupakan sebuah program global yang menantang gagasan cemerlang para mahasiswa untuk mendesain dan membangun mobil-mobil yang sangat hemat energi.

’’Kami meyakini, dengan dukungan semua pihak, kompetisi seperti Shell Eco-marathon ini akan mampu mendorong anak-anak muda untuk inovatif dan kreatif dalam mencari solusi dari permasalahan energi masa depan,”kata Darwin Silalahi, Country Chairman & President Director PT Shell Indonesia dalam siaran persnya.
Tim Mahasiswa Indonesia Buru Tiket Grand Final Mobil Hemat Energi
Salah satu pendatang baru dalam tim Indonesia yang turut berpartisipasi di Shell Eco- Marathon Singapore 2018 adalah tim mahasiswa Malem Diwa Urban dari Universitas Syiah Kuala, Nanggroe Aceh Darussalam dengan mobil UrbanConcept kategori baterai elektrik. Menurut Agung Saputra, Tim manajer Malem Diwa Urban mengatakan bahwa ini adalah pengalaman baru bagi mereka dalam menciptakan mobil hemat energi berbahan bakar baterai elektrik.

’’Selama ini kami mengikuti kompetisi sejenis yang dilaksanakan di dalam negeri dengan mobil berbahan bakar bensin. Di ajang internasional Shell Eco-marathon Asia 2018 ini, kami membangun mobil dengan sumber energi baterai elektrik. Kami harapkan mobil ini bisa memberikan hasil yang maksimal,” ujar Agung.



Kendaraan-kendaraan yang akan ikut lomba diharuskan melewati serangkaian uji teknis yang ketat untuk dapat berlaga di lintasan dan melihat seberapa jauh mereka dapat memacu kendaraan dengan konsumsi bahan bakar yang paling sedikit.

Para tim mahasiswa akan berkompetisi di salah satu dari dua kategori yang diperlombakan: Prototype – kendaraan futuristik dan beraerodinamika tinggi – atau UrbanConcept – kendaraan super ekonomis yang menyerupai kendaraan yang ada saat ini. Pada tahun 2018 ini jumlah peserta kelompok UrbanConcept mengalami kenaikan signifikan yakni 20% dibandingkan tahun 2017 lalu.

Para tim mahasiswa akan berkompetisi di tiga kategori berbeda berdasarkan sumber energi yang mereka gunakan: mesin pembakaran dalam atau Internal Combustion, Engine (ICE): bensin, solar, etanol (bahan bakar nabati); sel bahan bakar hidrogen dan baterai listrik.

Puncak dari kompetisi ini adalah Drivers’ World Championship (DWC) Asia – sebuah ajang balap yang seru. Tim-tim terbaik di tingkat regional akan menjadi wakil di ajang Driver’s World Championship Grand Final di London pada tanggal 8 Juli. Di ajang ini, tim-tim tersebut akan berkompetisi secara langsung untuk menentukan pengemudi terandal yang paling efisien dalam berkendara.

Darwin menambahkan, tingginya antusiasme, ketangguhan dan kerja keras merupakan modal yang selalu akan menjadi nilai yang tidak akan tergerus seiring dengan perkembangan ekonomi digital. ''Prestasi yang sudah dicapai oleh mahasiswa Indonesia di ajang internasional membuktikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam menciptakan inovasi di bidang teknologi untuk masa depan. Di sini saya melihat semangat juang para mahasiswa yang membuat mereka unggul dalam kompetisi yang sangat ketat seperti Shell Eco-marathon ” kata Darwin.
(aww)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak