alexametrics

Vendor Ponsel Perang Harga, Konsumen Diuntungkan

loading...
Vendor Ponsel Perang Harga, Konsumen Diuntungkan
FOTO: ilustrasi ponsel Xiaomi yang di rakit di pabrik PT Satnusa, di Batam.
A+ A-
JAKARTA - Dua ponsel terbaru Asus dan Xiaomi ini sempat menghebohkan media sosial: Redmi Note 5 (di banderol mulai Rp2,6 juta-Rp3 juta) dan Asus ZenFone Max Pro M1 (harganya mulai Rp2,4 juta-Rp3,3 juta). Bukan hanya harganya yang berdekatan, secara kebetulan kedua ponsel tersebut juga memiliki kesamaan dalam hal spesifikasi.

Misalnya sama-sama memakai layar Full HD+ seluas 6 inci dengan rasio 18:9 serta resolusi 2.160 x 1.080 piksel, sama-sama menggunakan prosesor Snapdragon 636 dari Qualcomm (dengan skor hasil pengujian Antutu yang hampir sama), juga pilihan RAM 3 GB dan 4 GB serta memori penyimpanan 32 GB dan 64 GB.

Perbedaannya hanya ada pada resolusi kamera depan dan belakang (tergantung tipe), juga baterai ZenFone Max Pro M1 yang lebih besar 1.000 mAh dibanding Redmi Note 5. Namun, kamera Redmi Note 5 sendiri sudah memiliki teknologi Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.



Di rentang harganya, baik ZenFone Max Pro M1 dan Redmi Note 5 sulit di kalahkan. Hanya kedua ponsel tersebut yang bisa memberikan spesifikasi yang sangat tinggi, namun tetap mengusung banderol yang terjangkau. Bahkan Marketing Manager Asus Indonesia Galip Fu tak menampik bahwa Xiaomi adalah kompetitor terbesar mereka. Bukan Oppo, apalagi Vivo. ”Produk mereka (Xiaomi) sangat bagus. Karenanya, kami harus bekerja keras untuk menghadirkan produk yang tak kalah bagus,” ungkapnya di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (23/4) silam.

Di akui atau tidak, sejak merilis Mi 1 pada Agustus 2011 Xioami memberikan perubahan besar di industri ponsel dunia. Terutama lewat premis tawaran ponsel dengan harga yang lebih terjangkau di banding kompetitor, tapi tetap terjaga kualitasnya. Walau pasarnya sempat menurun pada 2015-2016, kini secara global Xiaomi jauh lebih tangguh. Ketika pasar ponsel dunia tahun lalu stagnan, hanya Xiaomi yang mampu melipatgandakan pengiriman smartphone mereka selama 2017.

Pada awal tahun ini Xioami membuat heboh ketika menjual Redmi 5A dengan banderol harga Rp999 ribu. Padahal, spesifikasi seperti chipset Snapdragon 425, RAM 2 GB, memori internal 16 GB, slot micro SD khusus, baterai 3.000 mAh, dual SIM slot, serta kamera 13 MP dan 5 MP hanya bisa di temukan di ponsel kelas Rp1,5 juta ke atas.

Lalu, muncul pertanyaan, bagaimana bisa Xiaomi menjual ponselnya begitu murah? Jawabannya sendiri sudah bukan lagi “resep rahasia”. Ketika datang ke Indonesia, CEO Xiaomi Lei Jun menjelaskan model bisnis Xiaomi yang unik. Misalnya menekan biaya sehingga bisa menjual produk dengan harga modal, memangkas ongkos pemasaran/iklan, berfokus pada pemasaran online disbanding menyewa toko fisik, serta membuat dan mengembangkan produk yang memang di inginkan konsumen.

Langkah Asus mengikuti jejak Xiaomi lewat ZenFone Max Pro M1 mencerminkan bagaimana masifnya potensi konsumen Indonesia yang “sangat detil” ini. Galip Fu menyebutnya sebagai “konsumen rasional”. Yakni mereka yang sangat peduli terhadap apa yang di bayar dan apa yang di dapat. Mungkin juga, tren kedepannya seperti itu. Mungkin juga tren ini juga akan di ikuti oleh brand-brand lainnya yang bertarung di Indonesia.

Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai konsumen? Tidak ada. Konsumen Indonesia silahkan duduk santai, sambil memilih dan menikmati produk yang dirasa terbaik untuk mereka. Terbaik dari kombinasi harga dan spesifikasinya.
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak