Influencer Ikut Kena Dampak Negatif Wabah COVID-19

loading...
Influencer Ikut Kena Dampak Negatif Wabah COVID-19
Jang Hansol dan Amel Carla yang tergabung dalam exclusive talents di Gushcloud ikut menjadi pembicara dalam konferensi pers online yang membahas dampak pandemik COVID-19 terhadap industri influencer marketing. Foto/Ist
JAKARTA - Pandemik COVID-19 berdampak terhadap semua bidang ekonomi. Tak terkecuali terhadap industri influencer marketing di Asia Tenggara. (Baca juga: Tahun 2021 Indonesia Punya Observatorium Terbesar di Asia Tenggara)

Terkait hal itu, grup pemasaran dan talenta digital global Gushcloud International (Gushcloud) merilis sebuah laporan resmi mengenai efek dari COVID-19 terhadap industri influencer marketing di Asia Tenggara. Mengambil judul “The New Normal: How COVID-19 has Changed the Fundamentals of Influencer Marketing in Southeast Asia”, laporan dibuat dalam format Whitepaper yang dapat diakses publik pada website Gushcloud International.

Pandemik COVID-19 yang sedang berlangsung pertama kali menghantam wilayah Asia Tenggara pada Januari 2020. Sejak saa itu berdampak besar pada negara-negara di kawasan. Dampak ekonomi dari pandemi ini diperkirakan setara dengan Krisis Keuangan Asia tahun 1997-1998 atau bahkan lebih besar.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam) -0,6% pada 2020, turun dari perkiraan sebelumnya tumbuh 4,8% (Pusat Studi Strategis dan Internasional, 2020).

Whitepaper mengeksplorasi dan membahas dampak pandemi COVID-19 pada industri influencer marketing dan digital entertainment di pasar utama di Asia Tenggara. Masing-masing Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam dan Thailand.



Saat virtual press conference Gushcloud Whitepaper, Jang Hansol dan Amel Carla yang tergabung sebagai exclusive talents di Gushcloud berpendapat, sejak adanya pandemik COVID-19 ini, terdapat banyak perubahan yang terjadi dalam pembuatan sebuah konten.

“Dengan kondisi seperti saat ini, kami sebagai content creator harus dapat membuat ide dan kreatifitas baru supaya konten tersebut dapat dinikmati audiens kami meskipun berada di rumah” ungkap Jang Hansol.

Sedangkan Amel Carla mengakui dalam masa pandemik harus mencari ide-ide yang lebih kreatif untuk tetap bisa menarik perhatian audiens. Sebab mereka saat ini semakin banyak memiliki referensi konten. Hal ini berlaku juga untuk beberapa konten yang berafiliasi pada sebuah brand.

Pernyataan mereka sebagai konten kreator diperkuat oleh beberapa insight dalam Whitepaper tersebut. “Perubahan yang dibawa oleh COVID-19 telah memicu poros utama dalam perilaku konsumen, seperti apa yang mereka habiskan, konten yang mereka konsumsi, dan prioritas mereka. Agar para digital creator dan industri pemasaran dapat beradaptasi, kita perlu merangkul perubahan ini dan sepenuhnya mengadopsinya untuk mengedepankan strategi baru terhadap merek,” ungkap Althea Lim, Group CEO Gushcloud International.

Untuk Indonesia, Oddie Randa, Country Director Gushcloud Indonesia, menjelaskan, bisnis influencer marketing di tengah COVID-19 saat ini masih mampu bertahan. Meskipun tetap merasakan dampak yang cukup besar dari pengurangan marketing budget beberapa big spender.



“Dengan adanya pengurangan marketing budget ini, Gushcloud melihat ini sebagai sesuatu yang wajar karena banyak bisnis yang harus melakukan penyesuaian dengan lini pendapatan mereka yang terhantam keras oleh pandemi. Dalam beberapa bulan ke depan, semua perusahaan ini akan mampu menyesuaikan diri dengan pandemi dan kembali ke posisi spending seperti semula,” beber Oddie.

Whitepaper juga mengeksplorasi bagaimana keadaan dunia pasca-COVID-19. Audiens saat ini memiliki dengan kemampuan pembelian digital yang luas, pemegang merek dan influencer harus melihat dan memanfaatkan strategi e-commerce seperti live-commerce dan social commerce sebagai peluang pendapatan baru.

Dalam hal output konten, peluang baru dari adopsi format dan platform baru seperti TikTok, Twitch, dan Instagram Live diperkirakan akan bertahan untuk jangka Panjang. Pemegang merek dan influencer harus berupaya mengoptimalkan konten pemasaran mereka untuk platform ini.

Pada kesempatan yang sama, Lani Rahayu, AVP Social Media & Community Blibli.com mengungkapkan, pelaku industri dan brand juga harus menyesuaikan diri dalam memanfaatkan influencer marketing. Blibli, yang merupakan platform e-commerce, memiliki keunggulan lebih dalam melihat karakteristik pasar terutama dari kacamata pelanggan.

Sebagai sebuah brand, pihaknya juga harus mengambil satu langkah di depan pasar agar dapat memanfaatkan influencer marketing dengan maksimal. "Contoh, Blibli telah menerapkan hal ini saat mengadakan program live streaming Blibli 9th Anniversary: Bagi-Bagi Hepi yang terbukti sukses menarik perhatian, bahkan mereka yang belum menjadi pelanggan kami. Hal ini menunjukkan sinergi dan kolaborasi antara brand dan influencer adalah suatu keharusan di situasi New Normal,” tutur Lani.

Whitepaper menampilkan wawasan dari para profesional industri dari seluruh wilayah, dan juga dibentuk atas kolaborasi dengan Dr. Crystal Abidin (Internet Studies, Curtin University), seorang antropolog dan ahli etnografi yang meneliti budaya influencer, terutama hubungan kaum muda dengan selebriti internet, visibilitas online dan budaya pop media sosial. (Baca juga: Jumlah Paskibraka Tahun Ini Dipangkas, Menpora Minta Semangat Kemerdekaan Tidak Kendur)

“Memang, pandemi ini terbukti menjadi periode yang sangat sulit bagi seluruh industri. Namun, dengan adanya situasi ini juga menciptakan peluang baru untuk influencer, content creator, bisnis, dan agensi merek. Jika ada industri yang mampu gesit dan cepat untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan besar, itulah industri pencipta digital," simpul Althea Lim.
(iqb)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
KOMENTAR ANDA
Top