alexametrics

Drew Houston dan Arash Ferdowski Dropout Demi Dropbox

loading...
Drew Houston dan Arash Ferdowski Dropout Demi Dropbox
Drew Houston dan Arash Ferdowski Dropout Demi Dropbox
A+ A-
Dua pendiri Dropbox, Drew Houston dan Arash Ferdowski, mempunyai sejarah unik. Mereka “dipaksa” berkenalan karena investor awal Dropbox tidak ingin ada CEO tunggal.

Setelah lebih dari 10 tahun, kini Dropbox menjadi salah satu perusahaan personal cloud paling sukses di dunia. Drew Houston adalah pria yang cerdas. Pada usia 24 tahun, dia sudah punya ide gila. Ketika kecepatan internet jauh belum secepat sekarang, Drew sudah memiliki mimpi untuk membuat perusahaan cloud storage-nya menjadi kenyataan. Idenya itu menarik perhatian Y Combinator, salah satu perusahaan investasi paling bergengsi di Silicon Valley. Merekalah yang melihat ide Drew memiliki masa depan cerah.



Y Combinator berharap adanya partner bisnis bisa mencegah atau paling tidak meminimalkan hal tersebut. Argumen lainnya, perusahaan baru cenderung lebih bisa sukses jika memiliki lebih dari satu pendiri (founder ).

Sebab, ada lebih dari satu orang yang mengambil keputusan, juga mampu berbagai tugas untuk meringankan pekerjaan. Masalahnya, Drew saat itu hanya seorang diri dan tidak satu pun temannya mau bergabung di bisnisnya. Padahal, dia butuh waktu dua pekan untuk mencari rekan kerja dan menjadi co-founder-nya.

Dihadapkan pada masalah itu, Drew memiliki analogi yang unik untuk menggambarkannya. “Rasanya seperti mendapatkan email bahwa Anda masuk ke universitas favorit Anda, tapi dalam beberapa minggu ke depan Anda harus sudah menikah, tidak hanya berpacaran,” katanya.

Dalam waktu yang supersingkat itu, Drew akhirnya berhasil mengontak kenalan temannya. Dia tidak kenal orang itu. Dia adalah Arash Ferdowski, berusia 22 tahun. Statusnya mahasiswa di kampus yang sama, hanya dua tahun lebih muda. Dalam chatting yang berlangsung selama dua jam, Drew meyakinkan Arash untuk ikut dengannya di Dropbox, kalau perlu berhenti kuliah. Itu adalah 11 tahun lalu.

Sekarang perusahaan perintis asal San Francisco itu memiliki valuasi lebih dari USD12 miliar. Adapun kekayaan Drew mencapai USD3 miliar, sedangkan Ferdowski USD1,3 miliar. Ini tentu prestasi luar biasa. Selama perjalanannya, Dropbox acap disebut tidak akan sukses. Bahkan, mendiang Steve Jobs pernah berniat untuk “menghancurkan” Dropbox karena menyaingi layanan iCloud milik Apple.

Dari Mulut ke Mulut

Inspirasi bisnis bisa datang dari mana saja. Bagi Drew, inspirasi itu datang dari sebuah bus dari Boston ke New York pada akhir 2006. Sebagai lulusan Massachusetts Institute of Technology [MIT), di perjalanan itu dia sedang mencari ide untuk usaha bisnis. Saat itulah dia melupakan kartu memori yang memuat semua file penting miliknya.

“Kesal sekali, karena saya orangnya pelupa. Memor y card itu hal yang paling sering terlupakan. Saya tidak ingin hal itu terjadi lagi. Maka itu, saya melakukan coding untuk mencari solusi. Solusi seperti apa, saya juga tidak tahu,” katanya. Hasil coding itu ternyata menjadi awal ide Dropbox, yakni solusi penyimpanan di awan (internet), di mana pengguna dapat mengaksesnya di mana saja dan kapan saja.

Dalam dua pekan kemudian, Drew sudah membuat purwarupa dan nama. Beberapa bulan kemudian, Y Combinator mengaku tertarik. Lalu, Drew kembali ke MIT untuk bertemu Ferdowski yang saat itu sedang mempelajari Teknik Elektro dan Teknik Komputer. “Kami bertemu di kampus selama beberapa jam. Setelah itu, Arash langsung bertekad dropout dari kampus pekan depannya,” ujar Drew.

Jika dilihat lagi, Drew mengaku, langkah Arash memang nekat. “Saya yakin orang tuanya tentu memiliki rencana berbeda, ingin Arash lulus kuliah,” ucapnya. “Tapi, Arash sudah terlalu bersemangat. Padahal, kami berdua juga tidak tahu ke depannya seperti apa,” tutur dia. Pindah ke Kantor Y Combinator di Silicon Valley, Dropbox akhirnya diluncurkan pada 2008.

Untuk menggamit konsumen pertama, Dropbox membuat video promosi dan memostingnya di website seperti Reddit dan Slashdot. Tujuannya agar influencer di sektor teknologi mulai menggunakan layanan tersebut sehingga dapat memberikan testimoni positif terhadap Dropbox. Dengan begitu, Dropbox bisa tumbuh lewat promosi dari mulut ke mulut. Langkah tersebut ternyata sukses.

Ada 5.000 orang waiting list untuk mendaftar. Dalam beberapa hari, jumlah pendaftar di Dropbox mencapai 75.000, lalu terus bertambah menjadi 100.000 dan 200.000 hanya dalam 10 hari. Jumlah pengguna Dropbox terus meroket. Lalu, Drew memberikan skema promosi berupa insentif.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak