Startup Kesehatan Disambut Baik, Dunia Kedokteran Minta Payung Hukum

loading...
Startup Kesehatan Disambut Baik, Dunia Kedokteran Minta Payung Hukum
Dunia kedokteran di Indonesia menyambut baik kehadiran startup ber-platform kesehatan. Hanya mereka mengingatkan perlunya payung hukum untuk startup tersebut. Foto/Forbes India/Shutterstock
JAKARTA - Pandemik COVID-19 memaksa dunia kesehatan meminimalkan kontak fisik antara dokter dan pasien. Oleh karenanya platform digital kesehatan harus bisa dikembangkan dengan maksimal dan ada payung hukum yang membawahinya.

"Sekarang sudah ada sekitar 76 startup kesehatan dengan berbagai sasaran. Ini menjadi market yang cukup besar, market-nya juga cukup besar. Tapi ada dua hal yang wajib diperhatikan, standar profesi dan standar etik," kata Ketua Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) Dr Moh Adib Khumaidi, SpOT saat virtual interview via Zoom, Kamis (30/4/2020).

Selain itu, menurut Adib, pengembangan perusahaan rintisan di bidang kesehatan ke depannya perlu disiapkan secara khusus dan menjadi perhatian. "Apakah akan dibuat semacam Silicon Valley untuk membangun ekosistem di bidang kedokteran?" imbuhnya.

Namun yang paling penting adalah masalah regulasi agar tidak adanya penipuan seperti dokter palsu atau dokter yang tidak memiliki izin praktik. "Kita tidak mau juga ada provider yang dokternya tidak ada registrasi, tidak ada izin praktik atau dokternya palsu. Kita harus pikirkan juga apa perlu ada SIP (surat izin praktik) virtual," kata Adib tegas.

Di satu sisi, sambung dia, ada hikmah dari pandemik ini, yakni membuat masyarakat dan dunia kesehatan di Indonesia lebih melek terhadap teknologi. Indonesia sendiri dinilai terlambat dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, sebut saja Vietnam dan Malaysia.



"Kita harus mengubah mindset dari sisi kesehatan. Bisa dibilang Indonesia cukup terlambat, di ASEAN kita cuma menang dari Laos dan Kamboja, dengan Vietnam mereka sudah membangun rekayasa genetika," cetusnya.

Sehubungan dengan imbauan untuk bersinergi dalam melawan pandemik COVID-19, Vincent Iswara, CEO dan Co-Founder DANA menyatakan kesepahamannya. “Tidak ada istilah persaingan antarkompetitor dalam hal ini. Semakin banyak komponen bangsa yang terlibat, maka akan semakin kuat upaya kita dalam melawan pandemi. Kami telah berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuan miniprogram kami yang khusus didedikasikan untuk membantu penanganan COVID-19 dan kami yakin platform-platform lain pun memiliki tekad yang sama melalui program yang berbeda-beda,” kata Vincent.
(iqb)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
KOMENTAR ANDA
Top