alexametrics

Gunakan IoT, Alat Ini Jaga Kestabilan Pasokan Listrik untuk Gedung

loading...
A+ A-
JAKARTA - Rumah sakit dan data center adalah dua bangunan yang membutuhkan kestabilan dan kepastian pasokan listrik. Karena itu, keduanya membutuhkan solusi yang tepat dalam mengelola energi listriknya.

Tanggap akan kebutuhan ini, Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi, otomasi serta proteksi listrik, memperkenalkan inovasi terbarunya, yakni Masterpact MTZ. Ini merupakan generasi berikutnya dari high power low voltage air circuit breaker (ACB) pintar berbasis Internet of Things (IoT).

Masterpact MTZ mempunyai kemampuan analisa prediktif yang dipadukan dengan alat pengukur daya kelas 1 di industri. Perangkat diklaim sebagai yang pertama untuk kategori air circuit breaker dengan tingkat akurasi pengukur daya teratas di kelasnya. Schneider Electric juga menyatakan produknya itu telah tersertifikasi dengan standar internasional ISO 50001, IEC 61557-12 and IEC 60364-8.

“Sekarang masanya energi baru yang digerakkan oleh dekarbonisasi, desentralisasi dan digital-isasi. Oleh sebab itu, para pelaku bisnis perlu melakukan otomatisasi pengelolaan energi listrik dengan kemampuan analisa prediktif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan mengontrol biaya operasional akibat gangguan listrik yang tak terduga,” ungkap Xavier Denoly, Country President Schneider Electric Indonesia kepada wartawan saat mengenalkan Masterpact MTZ di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Dikatakannya, Masterpact MTZ menawarkan kemampuan digital yang terhubung dan dapat diintegrasikan dengan arsitektur EcoStruxure bagi pelanggan akhir, konsultan, pembuat panel listrik dan kontraktor listrik yang membutuhkan pemutus daya tinggi sebagai bagian dari low-voltage solution untuk lokasi industri dan bangunan yang kritikal.

Gunakan IoT, Alat Ini Jaga Kestabilan Pasokan Listrik untuk Gedung


Xavier mengklaim, solusi high power low voltage air circuit breaker (ACB) pintar berbasis IoT tersebut sangat cocok untuk bangunan-bangunan yang membutuhkan keandalan listrik setiap saat 24 jam/7 hari dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap terjadinya gangguan listrik. Di antaranya,rumah sakit dan data center.

“Bisnis seperti rumah sakit dan data center yang sangat sensitif dan bergantung terhadap keandalan listrik, memastikan tidak adanya downtime dan gangguan listrik sangatlah krusial. Sebab berdampak langsung terhadap reputasi perusahaan, kerugian finansial, keamanan data serta kenyamanan dan kepuasaan klien/pasien. Oleh karena itu, pengadopsian IoT dalam manajemen energi gedung menjadi sebuah keharusan,” tutur Xavier.

Berdasarkan riset Frost & Sullivan, belanja perawatan kesehatan di Indonesia diprediksi mencapai USD37,7 miliar pada 2020. Bisnis di sektor rumah sakit swasta juga akan semakin menggeliat dengan semakin banyaknya pembangunan rumah sakit swasta.

Pada 2015 hanya ada 917 rumah sakit swasta dan diprediksi meningkat menjadi 1.017 rumah sakit di 2020. Dengan meningkatnya kompetisi di sektor rumah sakit, serta ekspektasi yang semakin tinggi dari populasi kelas menengah terhadap pelayanan dan fasilitas rumah sakit, ini menuntut manajemen untuk memastikan seluruh proses dan kegiatan operasionalnya mendukung 100% kepuasaan pasien tanpa adanya kesalahan. Termasuk di dalamnya memastikan keandalan dan ketersedian listrik 24 jam setiap hari tanpa terjadi gangguan yang beresiko besar terhadap kesehatan dan kepuasan pasien.

"Digitalisasi dalam pengelolaan energi listrik merupakan salah satu solusi yang saat ini mulai dilirik oleh manajemen rumah sakit di Indonesia untuk mencapai tujuan tersebut," klaimnya.

Sementara itu, sektor data center juga memiliki prospek bisnis yang sangat besar. Data Ipsos Business Consulting mencatat adanya pertumbuhan pasar data center naik dua kali lipat sejak 2015 sampai 2018, yakni dari USD1,1 miliar menjadi USD2,3 miliar di tahun 2018.

Ipsos Business Consulting pun memperkirakan pada 2020 akan mencapai USD3,2 milliar. Bahkan investasi nasional di bidang data center mencapai USD400 juta.

Gunakan IoT, Alat Ini Jaga Kestabilan Pasokan Listrik untuk Gedung


"Pertumbuhan data center yang pesat dipicu oleh tiga faktor, yaitu penetrasi internet yang tinggi mencapai 52% dari total populasi Desember 2017, Peraturan Pemerintah No 82/2012 yang mewajibkan semua data yang terkait dengan Indonesia untuk dimuat di data center di dalam negeri, dan adanya solusi cloud computing yang memudahkan pelaku bisnis dan lebih terjangkau," kata Hendra Suryakusuma, CEO PT Data Sinergitama Jaya.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak