alexametrics

Keliling Nusantara

Blits Mobil Balap Listrik UBL-ITS Siap Ngebut Sepanjang 15.000 KM

loading...
Blits Mobil Balap Listrik UBL-ITS Siap Ngebut Sepanjang 15.000 KM
Blits mobil listrik balap pertama buah karya Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. FOTO/ HASAN/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Mobil listrik balap pertama buah karya Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya siap menaklukan Nusantara.

Mobil buatan kampus yang diberi nama Blits (Budi Luhur-ITS) ini, digadang-gadang tengah disiapkan untuk mengikuti Rally Dakkar di Argentina. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk mencapai mimpi itu.

Salah satunya dengan melakukan touring panjang keliling Nusantara, sejauh 15.000 KM. Dimulai dari ITS Surabaya, lalu ke Budi Luhur Jakarta, Medan, Aceh, Sabang, Pontianak (Pulau Kalimantan), dan Sampit.



Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Balikpapan, Samarinda, Makasar (Pulau Sulawesi), Kendari, Manado, Ternate, Sorong (Papua), Manokwari, dan Jayapura.

Dari Jayapura, perjalanan diteruskan ke Marauke, lalu ke Kupang, Labuan Bajo, Bima, Mataram, Bali, Banyuwangi, dan finish di Surabaya. Setelah 15.000 KM, mobil listrik balap ini dibuatkan hak patennya.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti Kasih Hanggoro mengatakan, projek Blits merupakan inovasi mobil listrik yang dilahirkan anak bangsa.

"Blits dipersiapkan untuk Rally Dakar di Argentina. Mulai dari tubular sasis, bentuk bodi, electric motor, dan ketahanan baterainya," kata Hanggoro, saat ditemui SINDOnews, di kampus UBL Jakarta, Senin (12/11/2018).

Dijelaskan dia, Rally Dakar di Argentina merupakan mimpi yang sangat mungkin untuk dicapai. Apalagi, kemampuan ITS dalam mengembangkan teknologi mobil listrik memang sudah sangat terpercaya.

"Harapannya, Blits bisa mengikuti Rally Dakar dengan spesifikasi canggih dengan ketahanan yang mumpuni. Maka mobil yang tidak biasa ini kita ciptakan," ungkapnya.

Direktur PUI-SKO ITS Dr Muh Nur Yuniarto menambahkan, ide gila membuat mobil listrik balap ini datang dari pihak UBL, yakni dari Hanggoro yang datang ke ITS, setelah peluncuran motor listrik ITS, yakni Gesit.

"Ini tantangan baru, untuk mendesign mobil listrik khusus rally. Cita-cita besarnya untuk digunakan balap di Rally Dakkar. Makanya, saat itu saya bilang, kalau buat mobil tidak untuk menang si kita bisa," sambungnya.

Dari hasil pertemuan itulah, Blits akhirnya tercipta. Awalnya, baru sampai gerbang ITS saja mobil ini sudah jebol digunakan. Hingga akhirnya berhasil keliling kampus, dan jebol lagi saat dibawa keluar Nganjuk.

"Tetapi kita coba Explore Indonesia dulu sebelum ke Rally Dakkar. Dalam perjalanan ini kami menggandeng PT PLN, PT Pertamina, Kemenristekdikti, dan PT Godyear Indonesia," terang Nur Yuniarto.

Adapun Blits akan menggunakan baterai 2.800 sell 29 seri, dan sisanya pararel. Kapasitas listriknya sendiri 100 kwh 350 volt, dengan amper 200 Ha. Jarak tempuh bisa mencapai 300 KM sekali charge.

"Battery Pack nya max capacity 90kWh, maximum voltage 380V, base voltage 350V, max discharge current 777A, dan base discharge current 259A," ungkapnya.

Semua riset tersebut, kata Nur, dikerjakan sendiri. Karena untuk bodi, sasis, pelek, dan lainnya produk asli Indonesia. Sedang untuk enginenya, pihaknya masih impor. Lantaran Indonesia masih belum bisa sendiri.

Terpisah, Rektor UBL Prof Didik Sulistyanto menambahkan, pembuatan mobil balap listrik ini bagian dari wujud kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi, dalam hal inovasi.

"Bagi kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi, karya inovasi kreatif seperti ini ditunggu-tunggu oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan daya saing bangsa, dan UBL berperan sangat aktif," sambungnya.

Dia berharap, projek Blits dapat lebih meningkatkan kemampuan mahasiswa dan dosen untuk melahirkan mobil listrik, serta berbagai inovasi lain yang bermanfaat.
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak