alexametrics

Perankan Dokter, Artificial Intelligence Akurat Kenali Penyakit

loading...
Perankan Dokter, Artificial Intelligence Akurat Kenali Penyakit
Dokter AI Mudah Kenali Gejala Berbagai Penyakit. (Istimewa).
A+ A-
GUANGZHOU - Dengan didukung lebih dari 1,4 juta data rekam jejak kesehatan, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di China bisa berperan sebagai dokter.

Bahkan, ‘diagnosa’ yang dihasilkan dokter AI ini diklaim lebih akurat dalam mengenali gejala berbagai penyakit anak dibandingkan manusia mulai dari flu dan gastroenteritis hingga meningitis bakteria. Saat diuji coba, sistem kecerdasan buatan itu mampu mendiagnosa hingga 90%.

Para peneliti dari Universitas Kesehatan Guangzhou yang dipimpin Profesor Ophthalmologi dan Genetik Dr Kang Zhang meyakini, AI dapat membantu rumah sakit (RS) dalam menyortir pasien berdasarkan tingkat kekritisan, juga meningkatkan kecepatan diagnosa sebagian penyakit yang sangat langka dan rumit.



“Penelitian kami membuktikan konsep penerapan sistem berbasis AI sebagai sarana untuk membantu dokter menangani data dalam skala besar, evaluasi diagnostik, dan memutuskan sesuatu agar lebih klinis,” ujar Dr Zhang, dikutip dailymail.co.uk. Untuk melatih AI, para ilmuwan menggunakan 1.362.559 data.

Dr Zhang mengatakan, data tersebut diambil sepanjang 2016 dari Pusat Kesehatan Anak-Anak dan Perempuan Guangzhou, sebuah RS besar milik pemerintah China. Secara keseluruhan, data umum yang digunakan mencapai 101,6 juta. Kata-kata dan frasa tertentu hingga suhu pasien juga diinput ke dalam sistem.

Saat diuji coba berhadapan dengan 20 dokter, sistem AI mampu melakukan diagnosa secara lebih akurat dibanding tenaga medis junior. Meski hasilnya terdengar menjanjikan, sejumlah ahli tetap skeptis dan menegaskan AI tidak akan pernah mengambil alih profesi dokter. Mereka beranggapan bahwa hasil dari dokter AI itu tidak menjamin akurat 100%.

“Penelitian itu bagus untuk mendalami deep learning. Meski demikian, penentuan keputusan pada masa kritis tetap harus diserahkan kepada manusia,” ujar Profesor Teknik Mekanik Duc Pham dari Universitas Birmingham.

“Tak masalah berapa banyak data yang digunakan, sistem AI tidak dapat menjamin benar 100%,” tambahnya.

Senada dengan Profesor Pham, Dr Paul Tiffin dari Universitas York mengatakan, penggunaan AI pada dasarnya juga bergantung terhadap kualitas pemeriksaan dokter. Dengan demikian, profesi dokter sejauh ini tidak terancam. Namun, sejumlah ahli memperingatkan AI pada akhirnya akan menguasai dunia.

Menurut Dr Jörg Goldhahn dari ETH Zurich, AI hampir memiliki kapasitas tak terbatas dalam mendiagnosa penyakit dan melakukan operasi secara lebih akurat. Dia juga berpendapat robot mungkin akan mampu membantu memangkas pengeluaran di bidang kesehatan karena lebih murah ketimbang manusia.

Dr Vanessa Rampton dari Universitas McGill mengatakan AI akan berguna sebagai peralatan pendukung tenaga medis. Namun, dia yakin AI tidak akan mampu menyingkirkan eksistensi dokter. Pasalnya, dunia kesehatan bukan hanya tentang pemeriksaan dan perawatan, tapi juga pertukaran emosi dan motivasi hidup.

Penerapan AI menyisakan keprihatinan terhadap sejumlah pemikir besar di dunia, mulai dari Bill Gates hingga Elon Musk. CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk menggambarkan AI sebagai ancaman terbesar eksistensi manusia. Profesor (Alm.) Stephen Hawking juga mengatakan AI hampir pasti menjadi musibah besar.

Berdasarkan survery YouGov pada 2016, lebih dari 60% responden mengaku khawatir robot akan mencuri profesi manusia dalam berbagai bidang. Sebanyak 27% memprediksi pekerjaan yang paling pertama dan terdampak terburuk ialah di bagian administrasi dan pelayanan. Mereka juga takut AI tidak terkendali.

Profesor Michael Wooldridge mengatakan AI dapat menjadi sangat rumit hingga tidak dapat dipahami seutuhnya. Jika fungsi algoritma tidak dapat dibaca, para insinyur tidak akan mampu memprediksi kegagalannya. Artinya, penerapan AI di berbagai peralatan dapat membuat alat itu bertindak di luar dugaan.

Saat ini, AI tidak hanya diterapkan di dunia medis, tapi juga di bidang lainnya, mulai dari automotif hingga militer. Pengembangan mobil self-driving telah dilakukan di berbagai negara. Sampai 2016, sebanyak 30 perusahaan telah menggunakan AI dalam pembuatan mobil driverless. Namun, sejauh ini, tidak ada yang dipasarkan.

Banyak komponen yang dibutuhkan untuk membuat mobil self-driving. Semua komponen diintegrasikan dengan sistem komputer yang rumit, terutama dalam sistem rem, pergantian lajur, pencegahan penabrakan, navigasi, dan pemetaan.

AI juga banyak digunakan dan sudah menjadi bagian penting dari video game sejak 1950-an. Dalam video games, AI berfungsi untuk menciptakan lingkungan dinamis dengan menghadirkan non-player character (NPC) yang responsif, adaptif, dan intelijen. (Muh Shamil)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak