alexametrics

Mengapa Layar di Mobil Semakin Lebar?

loading...
Mengapa Layar di Mobil Semakin Lebar?
Tren layar di kabin kendaraan memperlihatkan layar yang terus meluas. Hal ini untuk semakin mengurangi interaksi pengemudi dengan smartphone saat berkendara. Foto/ist
A+ A-
JAKARTA - Seharusnya, pameran Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas mengedepankan teknologi terbaru untuk produk-produk elektronik seperti kulkas, televisi, laptop, bahkan mesin cuci. Anehnya, pabrikan mobil tidak pernah absen untuk ikut serta.

Mereka memamerkan berbagai teknologi paling anyar di dunia automotif. Yang biasanya tidak jauh-jauh dari perangkat multimedia, misalnya saja ICE (In-Car Entertainment). Karena di situlah muara penghubung terbaik antara teknologi dan kendaraan. Dan di 2019 ini, tren yang sedang terjadi adalah pabrikan automotif berlomba-lomba memamerkan ukuran layar yang semakin besar.

Menurut lembaga riset IHS Markit, ukuran rata-rata layar di kendaraan secara global pada 2018 adalah 7,7 inci. Lalu trennya diproyeksikan membesar 8,4 inci di 2024.



Pelopor Layar Besar
Mengapa Layar di Mobil Semakin Lebar?

Yang menarik, ukuran layar di SUV terbaru Wuling, Almaz, yang dikenalkan di Sirkuit Sentul, Bogor, belum lama ini ternyata jauh lebih besar dibanding tren global. Ukuran layar vertikal di Almaz mencapai 10,4 inci, hampir sama dengan ukuran tablet iPad Pro keluaran Apple.

Bisa dibilang, Almaz menjadi salah satu pelopor tren SUV berlayar besar di Indonesia. Dan dengan adopsi teknologi masyarakat Indonesia yang begitu cepat, Almaz seolah menjawab keprihatinan saya terhadap ini: “Kenapa perkembangan teknologi automotif di Indonesia terasa lambat?”

UI dan UX
Pertanyaan pertama dengan layar besar yang harus dijawab adalah ini: soal User Interface (UI) dan User Experience (UX). UI adalah cara bagi pengguna untuk berinteraksi dengan layar Almaz. Hasilnya, intuitif dan mengasyikkan. Tampilan menu dan interface di layar Almaz memiliki keseragaman sangat baik, dari segi warna, font, dan gambar. Visualnya pu terkesan cantik dan mewah.

Ketika disentuh, juga responsif. Saya bisa mengendalikan blower AC dengan ujung jari, senyaman menaikturunkan kecerahan layar di smartphone. Lalu, bagaimana dengan UX-nya, soal merupakan kepuasan dalam berinteraksi dengan sistem multimedia Almaz?

Secara keseluruhan sangat baik. Menu-menunya mudah dinavigasikan dan tidak membingungkan. Karena ukurannya besar, pengguna juga tidak kesulitan saat harus memilih atau menggeser tombol-tombol digitalnya.

Fungsi dan Kegunaan
Pertanyaan berikutnya soal layar besar adalah ini: apa gunanya? Tentu akan sayang jika layar besar tapi fungsinya tidak dioptimalkan.

Untungnya, Wuling tidak setengah-setengah dalam menghadirkan fitur di Almaz. Manfaat paling terasa adalah fitur kamera 360. Di layar 10,4 inci, kita bisa tau kondisi sekeliling kendaraan dengan sangat detail. Sangat memudahkan untuk parkir di ruang sempit. Terutama orang-orang dengan skill parkir payah seperti saya.

Fungsi terpenting lainnya, tentu integrasi ke ponsel. Sejauh ini, terbatas di 10 aplikasi yang bisa diintegrasikan. Tapi sudah mencakup semua yang biasa digunakan pengemudi. Seperti Google Maps dan Spotify yang paling penting saat berkendara (sayangnya tidak termasuk Waze). Bahkan ada Gmail, WhatsApp, Line, JOOX, Google, Facebook, YouTube dan Instagram

Sumber Distraksi?
Dengan layar yang besar, mungkin konsumen bertanya-tanya, “Apakah tidak akan jadi sumber distraksi saat mengemudi?”.

Jawabannya, distraksi bisa datang dari mana saja. Termasuk dari layar ponsel yang kecil. Di CES, pabrikan mobil berlomba membuat layar mobil lebih besar, justru agar pengemudi tidak lagi tergerak untuk melihat layar ponsel yang kecil. Sebab, semua informasi yang ia butuhkan ada di layar utama (yang ukurannya besar).

Ke depannya, bahkan layar di mobil memegang fungsi lebih penting lagi. Sebagai jendela ke dunia digital, layar yang lebih besar diharapkan dapat meningkatkan keselamatan berkendara dengan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna.

Terutama nanti ketika jaringan 5G sudah berjalan dan antarmesin dapat saling berbicara (machine to machine). Misalnya mengirimkan notifikasi soal peringatan kecelakaan atau kondisi jalanan yang akan dilalui.
Harapannya, distraksi justru akan berkurang. “Anda perlu tempat untuk menampilkan informasi visual kepada pengemudi dengan cara yang efektif dan tidak mengganggu,” kata Abe Chen, VP teknologi di Byton.

Di CES, Byton ini mengembangkan purwarupa mobil M-Byte dengan layar 48 inci, yang bahkan lebih besar dari rata-rata TV yang dijual di Indonesia.
(mim)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak