Penguatan Riset dengan Kecerdasan Artifisial Percepat Pemulihan Ekonomi

loading...
Penguatan Riset dengan Kecerdasan Artifisial Percepat Pemulihan Ekonomi
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menyebut anggaran R&D Indonesia masih jauh dari ideal, yakni hanya 0,25 dari GDP. Sementara negara lain seperti Korea Selaran sudah mencapai 4%. Foto/Muh Iqbal M/SINDOnews/Capture
JAKARTA - Memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional setiap tanggal 10 Agustus, Huawei Indonesia bekerja sama dengan Asosiasi Big Data & AI Indonesia (ABDI) menggelar webinar yang membahas urgensi pengembangan solusi-solusi efektif berbasis teknologi Kecerdasan Artifisial (KA) melalui riset dan pengembangan inovasi. (Baca juga: Wapres Harap HAKTEKNAS dapat Dorong Inovasi di Tengah Pandemi)

Webinar menghadirkan pembicara utama Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro dan CEO Huawei Indonesia Jacky Chen. Gelaran ini juga menghadirkan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Prof Nizam, Rudi Rusdiah Ketua ABDI, dan beberapa praktisi serta akademisi lainnya.

Semua pihak yang terlibat sebagai pembicara sepakat bahwa riset dan pengembangan adalah faktor fundamental yang perlu mendapatkan dukungan dari semua pemangku kepentingan.



Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang Brodjonegoro, mengatakan, riset dan pengembangan inovasi menjadi kunci dalam mendorong keberhasilan Indonesia dalam menemukan beragam solusi untuk berbagai tantangan yang dihadapi, termasuk dalam upaya memulihkan kondisi perekonomian nasional.
Penguatan Riset dengan Kecerdasan Artifisial Percepat Pemulihan Ekonomi

“Riset berbasis Kecerdasan Artifisial ini diyakini mampu menjadi landasan dalam akselerasi inovasi, yang tidak saja mampu menjadi solusi pemulihan ekonomi, namun juga berperan penting dalam memperkuat kompetensi, daya saing global, serta kemandirian dan kemajuan Indonesia di masa depan,” ujar Bambang.

Pihaknya berharap, gagasan-gagasan yang disampaikan oleh pemerintah, akademisi, lembaga riset, dan pengembang teknologi dunia melalui diskusi ini mampu berkontribusi terhadap pengembangan budaya riset berbasis iptek di Indonesia dan Strategi Nasional (Stranas) Kecerdasan Artifisial (KA) demi terwujudnya tata kelola yang sederhana, transparan, dan efisien.

Dijelaskannya, riset dan pengembangan menjadi fondasi keberhasilan transformasi dari negara berbasis sumber daya alam menjadi negara berbasis inovasi teknologi. Untuk itu, pendayagunaan terdepan seperti big data analitik dan juga Kecerdasan Artifisial (KA) menjadi bagian terintegrasi dalam membangun fondasi strategis ini.



Kemenristek/BRIN saat ini sedang mengembangkan Stranas Kecerdasan Artifisial yang penerapannya akan fokus pada peningkatan kualitas layanan publik dan industri unggulan nasional. Programnya menyasar layanan kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, mobilitas dan kota cerdas.
Penguatan Riset dengan Kecerdasan Artifisial Percepat Pemulihan Ekonomi

Strategi tersebut selaras dengan visi pemerintah "Indonesia Emas 2045" yang bertujuan mendorong ekonomi Indonesia menjadi kekuatan 5 Besar Dunia. Sekaligus menjadikan Indonesia lebih kompetitif secara global.

"Melalui visi tersebut, Presiden Joko Widodo optimistis Indonesia segera keluar dari middle-income trap dengan memprioritaskan Advanced Research & Innovation (R&I) dengan Kecerdasan Artifisial (KA) untuk meningkatkan nilai tambah pada industri dan ekspor guna mendorong pemulihan ekonomi," tutur Bambang.

Dia menambahkan, kolaborasi seperti yang tergambar dalam tukar gagasan pada webinar ini berperan penting dalam sosialisasi kebijakan pemerintah, terkait pengembangan riset dan inovasi yang berbasis iptek. Menurut Menristek, kolaborasi berkelanjutan penting untuk terus dikembangkan antara pemerintah, lembaga iptek, akademisi, peneliti, pelaku usaha, pelaku industri, serta pengembang teknologi seperti Huawei, agar ke depannya mampu dihasilkan solusi-solusi yang cepat dan tepat.

“Huawei Indonesia berkomitmen memberikan dukungan optimal atas keseriusan Pemerintah Indonesia dalam melakukan pengembangan Kecerdasan Artifisial yang selaras dengan arah kebijakan nasional untuk penguatan daya saing dan kompetensinya di kancah global," kata Jacky Chen, CEO Huawei Indonesia.

Ini merupakan wujud penegasan komitmen jangka panjang perusahaan untuk Indonesia, di mana Huawei akan memberikan dukungan terhadap Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia, bersinergi dengan perguruan tinggi dalam pengembangan SDM di bidang Kecerdasan Artifisial, membangun ekosistem industri Kecerdasan Artifisial bersama perusahaan-perusahaan startup lokal.

"Tentunya dengan dukungan referensi dari keberhasilan penerapan teknologi kami di tingkat global,” imbuh Jacky Chen.
Penguatan Riset dengan Kecerdasan Artifisial Percepat Pemulihan Ekonomi

Dia menegaskan, tujuan dari dukungan Huawei yang terus berkelanjutan tersebut adalah guna membantu keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan transformasi digital dan penguatan ekonomi melalui inovasi-inovasi berbasis Cloud, Kecerdasan Artifisial, 5G, dan Huawei Mobile Services (HMS). Huawei meyakini ekosistem industri Kecerdasan Artifisial (KA) yang kuat akan berperan penting dalam mewujudkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (KA), serta meningkatkan inovasi dan pendayagunaannya yang bermanfaat bagi Indonesia di era serbacerdas.

Terkait komitmen mendukung pengembang riset, Jacky mengatakan, Huawei memiliki semangat serupa yaitu menjadikan riset dan pengembangan sebagai landasan kuat yang paling mendasar dalam menciptakan inovasi-inovasi untuk dunia yang makin cerdas.

Saat ini, Huawei didukung oleh sekira 96.000 karyawan yang fokus di bidang riset dan pengembangan, meliputi lebih dari 700 PhD spesialis matematika, lebih dari 200 PhD di bidang fisika dan kimia, serta lebih dari 5.000 PhD di bidang teknik.

Huawei juga telah membangun kemitraan dalam riset dan inovasi dengan lebih dari 300 universitas. Serta dengan lebih dari 900 lembaga atau institusi riset di dunia.

Selama 20 tahun hadir dan berkiprah di Indonesia, Huawei yakin pembangunan ekosistem infrastruktur TIK Indonesia yang tangguh, seperti 5G, IoT, Fibre Network, Cloud, dan Kecerdasan Artifisial, bakal mampu mendukung percepatan pemulihan ekonomi Indonesia, menuju Indonesia yang cerdas dan semakin terhubung.

Pada kesempatan yang sama, Hammam Riza, mengatakan, Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Republik Indonesia tahun 2020-2045 merupakan arah kebijakan nasional. Fokusnya pada bidang prioritas teknologi kecerdasan artifisial yang sebagai acuan kementerian, lembaga, komunitas, industri dan pemangku kepentingan lainnya dalam melaksanakan kegiatan di bidang teknologi kecerdasan artifisial di Indonesia. (Baca juga: Sebut Ada Ancaman, Sejumlah Purnawirawan TNI Temui Rizal Ramli)

Rudi Rusdiah sendiri berpendapat, jika sekarang perusahaan tidak menerapkan teknologi kecerdasan buatan, maka kemajuannya akan tertinggal kompetitornya. Karena itu, adopsinya sangat dibutuhkan di era analitik Big Data seperti sekarang.
(iqb)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
KOMENTAR ANDA
Top