alexametrics

Mantan Penyelidik FAA Pastikan Teknologi Boeing 737 MAX 8 Berbahaya

loading...
Mantan Penyelidik FAA Pastikan Teknologi Boeing 737 MAX 8 Berbahaya
Kantor dan Pabrik Boeing di Amerika Serikat. FOTO/ Ist
A+ A-
NEW YORK - Peristiwa kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai Ethiopian Airlines terbaru jatuh di dekat Addis Ababa membuat reaksi keras dari dunia penerbangan. Bahkan Boeing dituntut untuk segera melakukan Recall terhadap 737 MAX 8.

Reaksi keras itu cukup beralasan, pasalnya sebelum kecelakaan Pesawat Ethiopian Airlines baru saja Lion Air dengan jenis pesawat yang sama juga mengalami kecelakan di pengujung tahun 2018 lalu.

Setidaknya .9 negara seperti Singapura, Australia, Malaysia dan Oman telah mengeluarkan perintah yang melarang semua pesawat Boeing 737 MAX 8 memasuki wilayah udara sementara pilot Aerolineas Argentinas Argentina menolak untuk terbang. BACA JUGA; Berita Kumpulan Kecelakaan Pesawat Boeing 737 MAX Series.



Bahkan Senator Amerika Serikat Richard Blumenthal dilaporkan mendesak pemerintah AS untuk menunda operasi semua 737 MAX 8 pesawat, sampai Federal Aviation Administration (FAA) memberikan keamanan dan kejelasan soal 737 Max 8.

"Saya tidak mengatakan itu tidak aman untuk menerbangkan pesawat tetapi dalam kasus ini, saya harus mengatakan itu tidak aman. Saya akan berhati-hati dengan MAX 8, saya minta maaf untuk mengatakan itu, "kata mantan penyelidik keamanan FAA, David Soucie seperti dilansir dari Dailymail, (13/3/2019).

Dia mengakui bahwa dia tidak akan naik Pesawat Boeing 737 MAX 8. BACA JUGA: AS Menolak Setop Operasional Pesawat Boeing 737 Max

Sementara itu Mantan Direktur Manajemen NTSB, Peter Goelz yakin kru penerbangan khawatir tetapi masih terlalu dini bagi otoritas AS untuk mengikuti langkah maskapai lain.

"Tapi saya pikir penjelasan dan jaminan keamanan dari pihalk pesawat Boeing adalah hal utama yang menjadi agenda semua orang," tegasnya.
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak