alexametrics

Regulator India Selidiki Google Karena Salah-Gunakan Dominasi Android

loading...
Regulator India Selidiki Google Karena Salah-Gunakan Dominasi Android
Komisi Persaingan India menyelidiki dugaan penyalahgunaan dominasi handphone Android oleh Google sebagai pemilik OS. Foto/ist
A+ A-
NEW DELHI - India adalah pasar ponsel cerdas terbesar kedua di dunia, posisinya sebagai negara berkembang membatasi penjualan ponsel unggulan kelas atas.

Itulah sebabnya perusahaan berbasis nilai seperti Xiaomi telah melakukannya dengan sangat baik di negara ini. Sementara Apple yang memperluas produksi iPhone di India ke model saat ini masih memiliki perbedaan harga mencolok dengan perangkat Android. Akibatnya smartphone Android telah menguasai sekitar 99% (Counterpoint Research) penjualan ponsel cerdas di India.

Sehubungan dominasi tersebut, merujuk laporan Reuters, Komisi Persaingan India (CCI) tengah menyelidiki klaim bahwa Google menyalahgunakan posisi ini dengan memaksa produsen untuk melakukan pra-instal aplikasi tertentu pada ponsel Android-nya.



Regulator antimonopoli India tidak mengumumkan secara terbuka tuduhan terhadap Google, tapi sumber-sumber Reuters mengatakan tuduhan itu mirip dengan kasus yang diajukan Komisi Eropa (EC) terhadap Google. EC mengklaim Google memaksa produsen ponsel untuk melakukan pra-instal Google Search, browser Google Chrome, dan Google Play Store pada perangkat Android.

Hal ini memberi Google keunggulan dibandingkan pengembang lain. Akibatnya, musim panas lalu EC mendenda Google lebih dari USD5 miliar. Meskipun Google mengajukan banding atas denda tersebut, bulan lalu Google meluncurkan dua layar baru untuk pengguna Android di Eropa yang menyarankan browser pihak ketiga dan mesin pencari yang dapat dipasang oleh pengguna di perangkat Android mereka.

Jika CCI menemukan Google melanggar UU Anti-Monopoli di negara tersebut, CCI dapat mengenakan denda tidak lebih dari 10% dari pendapatan perusahaan selama tiga tahun terakhir yang berasal dari Google Search dan browser Chrome di India.

Untuk diketahui, tahun lalu Google didenda 1,36 miliar rupee oleh CCI (setara USD19,46 juta) untuk apa yang disebut "bias pencarian" dan penyalahgunaan posisi dominannya. Perusahaan menempatkan fitur pencarian penerbangan komersialnya sendiri pada hasil Pencarian Google. Mereka juga mengajukan banding atas denda ini.

"Mereka dapat mengubah perilaku mereka di India secara sukarela atau membiarkan CCI menyelidikinya. Perubahan perilaku secara sukarela dapat berdampak pada jumlah hukuman, jika itu diberlakukan," kata Gautam Shahi, Pengacara Anti-Monopoli India.Penyelidikannya sendiri bisa memakan waktu selama satu tahun untuk menyelesaikannya. Google sendiri telah menanggapi berita investigasi CCI dengan mencatat bagaimana Android telah memungkinkan akses berbiaya rendah ke internet bagi jutaan orang India.

Mereka juga ingin bertemu dengan badan pengawas untuk menunjukkan bagaimana Android telah menyebabkan lebih banyak kompetisi dan inovasi.

CCI mulai menyelidiki masalah ini tahun lalu setelah menerima banyak pengaduan dan memulai penyelidikannya pada pertengahan April. Menurut mereka yang mengetahui kasus tersebut. Satu sumber mengatakan, Ini adalah kasus kuat bagi CCI, mengingat preseden UE (Uni Eropa). CCI (sebelumnya) mendapati Google menyalahgunakan posisi dominannya.

Sementara Android adalah sistem operasi open source gratis, produsen harus membayar lisensi ke Google untuk penggunaan Google Play Store, Google Search, dan browser Chrome. Ada produsen yang menawarkan ponsel Android tanpa mendapatkan lisensi dari Google, tapi sebagian besar perangkat tersebut ditemukan di pasar mancanegara.
Namun, Amazon, yang menggunakan versi Android pada tablet Fire-nya, mencoba hal yang sama dengan Fire Phone-nya pada 2014. Seperti halnya dengan tablet-nya, Google Play Store diganti dengan Amazon Appstore. Handphone itu gagal di pasaran, beberapa bulan setelah dirilis, AT&T menjualnya hanya dengan harga 99 sen.
(mim)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak