alexametrics

Usai Huawei, Giliran Otomotif Jepang Dianggap Ancaman Bagi AS

loading...
Usai Huawei, Giliran Otomotif Jepang Dianggap Ancaman Bagi AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. FOTO/ Istimewa
A+ A-
NEW YORK - Bukan hanya Huawei yang jadi sasaran empuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bahkan produsen automotif Jepang diklaim Trump adalah ancaman bagi AS.Jumat lalu, Presiden AS setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Divisi Perdagangan untuk menyatakan bahwa mengimpor outsourcing dan suku cadang sejak 1980-an merupakan ancaman bagi keamanan nasional.

Kesimpulan ini dibuat setelah melihat dampak pangsa pasar kendaraan merek lokal yang telah lama menyusut oleh kendaraan impor dari Jepang.

Trump mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 25% pada kendaraan impor, sebuah langkah yang seharusnya meningkatkan harga penjualan kendaraan, mengurangi tingkat persaingan global kendaraan Amerika dan membatasi investasi di pasar nomor dua dunia.



Dalam sebuah pernyataan, Asosiasi Produsen Mobil Jepang (JAMA) yang diketuai oleh presiden Toyota, Akio Toyoda menyatakan kekecewaannya atas keputusan yang dibuat oleh Donald Trump.

"Kami kecewa mendengar keputusan yang dibuat, melihat kontribusi jangka panjang kami ke AS tidak dihargai," jelas Toyoda seperti dilansir dari Reuters.

JAMA adalah organisasi yang diikuti oleh Toyota, Nissan, Honda, Mitsubishi, Mazda, Suzuki, Kawasaki, Yamaha, Subaru dan merek lainnya.

Pasar AS adalah salah satu pasar yang paling penting, dan menurut JAMA, pabrikan Jepang sekarang memiliki sekitar 24 pabrik, 45 pusat penelitian dan desain, 39 pusat distribusi di 28 negara bagian dan menyediakan sekitar 93.000 peluang kerja kepada orang-orang di sana.

Serangan Trump terhadap pabrikan Jepang juga memengaruhi keputusan Toyota untuk berinvestasi USD13 miliar dalam lima tahun di Amerika, termasuk USD 1,6 miliar di Alabama yang dibangun dengan Mazda Motor Corp.
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak