alexametrics

Google Sebut 1,5% Kata Sandi Pengguna Ada di Tangan Penjahat Dunia Maya

loading...
Google Sebut 1,5% Kata Sandi Pengguna Ada di Tangan Penjahat Dunia Maya
Google mengingatkan Anda bahwa kata sandi harus unik. Pengguna juga tidak boleh menggunakan kata sandi yang sama untuk mengakses beberapa layanan. Foto/ist
A+ A-
MOUNTAIN VIEW - Pada awal 2019, Google menyajikan ekstensi Pemeriksaan Kata Sandi yang baru. Alat itu berguna mengecek apakah kredensial pribadi yang digunakan untuk mengakses berbagai situs web telah dicuri selama beberapa serangan.

Sekarang, juru bicara Google baru saja mengumumkan bahwa 1,5% dari semua kata sandi yang saat ini digunakan di web telah dicuri oleh penjahat dunia maya. Setelah diinstal, ekstensi Pemeriksaan Kata Sandi Google memeriksa nama pengguna dan kata sandi yang digunakan. Dengan menampilkan pesan peringatan ketika penggunaan kredensial yang dikenal untuk penyerang jarak jauh terdeteksi.

Laman Giz China menyatakan, perpanjangan ini merupakan hasil dari kolaborasi dengan akademisi Universitas Stanford. Ini tidak melacak kredensial pengguna dan mencari pada database lebih dari 4 miliar pasangan nama pengguna serta kata sandi yang dikenal oleh penjahat dunia maya.



Dari sekitar 21 juta kredensial yang secara otomatis diperiksa oleh ekstensi, Google menjelaskan bahwa 315.000 terlibat dalam berbagai serangan. Praktik yang terdiri dari menggunakan kembali kata sandi yang sama di beberapa situs web masih sangat umum di kalangan pengguna.

Google mengingatkan Anda bahwa kata sandi harus unik. Pengguna juga tidak boleh menggunakan kata sandi yang sama untuk mengakses beberapa layanan.

Google menjelaskan bahwa tujuan dari alat Pemeriksaan Kata Sandi juga untuk mendorong pengguna mengganti kata sandi sederhana. Dengan mengganti yang lebih kompleks, tentu kata sandi menjadi tak rentan terhadap serangan.
(mim)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak