alexametrics

Tren Baru Smartphone, Perang Kamera Megapiksel Raksasa!

loading...
Tren Baru Smartphone, Perang Kamera Megapiksel Raksasa!
Tren Baru Smartphone, Perang Kamera Megapiksel Raksasa!
A+ A-
Inilah tren baru di pasar smartphone: penggunaan kamera bermegapiksel masif. Redmi Note 8 Pro menjadi ponsel pertama di Indonesia dengan kamera 64 MP. Dan sebelumnya, kamera 48 MP sudah banyak diadopsi. Seperti apa trennya?

Pada pertengahan 2012 Nokia membuat kejutan lewat penggunaan sensor foto 41 megapiksel pada smartphone 808 Pureview. Inilah pertama kalinya sebuah ponsel mengadopsi ukuran megapiksel masif. Bahkan, resolusi sensor di kamera tersebut tetap memegang rekor tertinggi sampai Januari 2019. Tepatnya ketika Honor View 20 dirilis mengusung sensor foto 48 megapiksel pertama.

Nokia 808 Pureview menggunakan teknologi pencitraan PureView Pro, yakni kombinasi dari sensor 1/1.2 inci, sensor gambar 41 MP, serta lensa Carl Zeiss. Sensor yang besar itu dipadu dengan teknik pixel oversampling atau pixel binning. Yakni, melebur beberapa piksel menjadi sebuah superpiksel. Teorinya, dengan ukuran piksel besar, detail gambar akan terjaga, termasuk dalam kondisi pencahayaan rendah.



Setahun kemudian, Nokia kembali mengenalkan Lumia 1020. Sama-sama berlabel 41 megapiksel. Namun, ukuran sensornya 30 persen lebih kecil dibanding Nokia 808 PureView. Foto yang dihasilkan Lumia 1020 bisa mencapai ukuran 34 hingga 38 megapiksel (7712x4352). Atau, dimampatkan menjadi 5 MP lewat teknik oversampling sehingga hasilnya jauh lebih tajam dibanding foto 5 MP dari smartphone lain.

Mengapa Harus Megapiksel Besar?

Beralih ke 2019, tren kamera di ponsel sedikit berubah dari sekadar menggunakan lebih dari satu kamera belakang (multi-camera), menjadi sebuah perlombaan untuk mengadopsi sensor kamera 48 megapiksel.

Mulai Galaxy A50s, Oppo Reno 10xZoom, Galaxy A80, Realme 5 Pro, Oppo F11 Pro, Galaxy M30s, Redmi Note 8, Oppo Reno2, Oppo A9 2020, Huawei Nova 5T, hingga Vivo V17 Pro. Bisa dibilang, hampir semua ponsel jagoan di mid-end mengusung sensor 48 MP. Tapi, mengapa? Jawabannya, karena prosesornya mendukung dan sensornya pun tersedia.

Memang, megapiksel yang tinggi tidak menjamin foto yang dihasilkan juga lebih baik. Namun, dengan megapiksel besar, teorinya resolusi juga lebih besar. Lebih banyak detail yang bisa direkam di sebuah foto. Kamera 48 MP jelas bisa merekam detail lebih banyak dibanding normalnya kamera 12 MP. Dampak lain, ukuran gambar juga lebih besar.

Artinya, ketika melakukan cropping atau memotong gambar, seharusnya kualitas tidak akan berkurang. Saat ini ada dua tipe sensor 48 MP terbaik di pasar, yakni Sony IMX586 dan Samsung GM1. Bedanya, sensor IMX586 memecah 1.6?m superpiksel ke 0.8?m piksel untuk menghasilkan gambar 48 MP. Adapun GM1 mengadopsi teknologi AI untuk menghasilkan 48 MP. Kedua sensor ini digunakan oleh beragam vendor.

Dari 48 MP ke 64 MP


Ternyata sensor 48 MP pun dianggap belum cukup. Sebab, Xiaomi Redmi Note 8 Pro membenamkan sensor lebih besar, 64 MP di kameranya. Lagi-lagi, karena Samsung merilis sensor 64MP ISOCELL Bright GW1 dan pembaruan 48MP ISOCELL Bright GM2.

Sensor 64MP GW1 milik Samsung menggunakan teknologi peleburan piksel TetraCell 4-in-1 untuk menggabungkan empat 0.8 micron piksel ke dalam satu 1.6 micron piksel untuk menghasilkan gambar yang deytil di pencahayaan rendah. Ada juga teknologi DCG dynamic ISO, yang otomatis akan mengatur ISO seusai cahaya yang masuk. Redmi Note 8 Pro juga bisa memotret gambar 64 MP dalam format RAW di sensor utamanya.

Lalu, apa beda 64 MP dan 48 MP? Nah yang utama, jelas 64MP memiliki 34% lebih banyak dibanding 48 MP. Itu artinya lebih banyak detail yang terekam di setiap gambar. Yang jelas, kedua modul 64 MP dan 48 MP di Redmi Note 8 Pro dan Redmi Note 8 adalah yang terbaik di pasar saat ini.

Diklaim mampu menangkap gambar yang sangat detail, dengan dynamic range yang sangat baik, serta warna yang akurat. Bahkan, yang terbaru, Xiaomi dan Samsung sedang berkolaborasi untuk membuat ponsel dengan sensor ISOCELL Bright HMX yang dirancang untuk menangkap gambar 108 MP. Resolusi tersebut diklaim setara dengan kamera DSLR high end.

Jadi Gimmick Baru?


Menurut pemerhati teknologi Lucky Sebastian, saat ini resolusi kamera besar digunakan untuk menyiasati keterbatasan sensor dan lensa kamera smartphone yang kecil, untuk bisa menghasilkan foto sebaik mungkin mendekati kamera profesional. ”Arahnya memang ke megapiksel besar (lagi). Tapi, bukan seperti zaman dulu. Seperti di Nokia 808 PureView yang mencoba mendorong kamera smartphone ke batasnya,” ungkap Lucky.

Sebagian konsumen, Lucky melanjutkan, telah redukasi bahwa besaran MP kamera bukan berarti hasil foto akan menjadi lebih baik. Namun, bukan tidak mungkin pemahaman tersebut akan berubah. ”Setelah nanti vendor ponsel berhasil membuktikan teknologi kamera megapiksel besar bermanfaat menghasilkan foto yang lebih baik. Yang membuat batas baru di teknologi kamera smartphone,” sebutnya.

Tentu saja ada juga konsumen yang melihat angka sebagai acuan. Semakin besar megapikselnya, maka semakin baik. Ini menurut Lucky sangat wajar. ”Karena hasil foto kamera bagus atau tidak adalah subjektif. Sedangkan angka-angka memudahkan pemahaman. Jadi kemungkinan tren kamera dengan MP besar akan memberikan pertimbangan baru bagi para konsumen, setelah melihat banyaknya lensa kamera di sebuah smartphone,” ujar Lucky.

Computational Photography

Memang sangat sulit bagi smartphone untuk menyaingi sensor kamera DSLR yang besar. Itu karena saat konsumen ingin hasil foto lebih canggih, mereka juga tidak ingin ukuran ponsel jadi lebih tebal. Solusinya, adalah menggunakan cara lain untuk mendapatkan gambar berkualitas, yakni lewat komputerisasi.

Menurut Lucky Sebastian, teknologi ISP dalam SoC atau prosesor sekarang, semakin baik. Kemudian juga ada AI dan software yang berkembang. Membuat hasil kamera tidak lagi mengandalkan lensa dan sensor semata. Melainkan computational photography, algoritma yang bisa memadukan hasil tangkapan beberapa lensa kamera, diolah menjadi hasil foto yang optimal.

”MP besar dengan teknologi Tetracell atau pixel binning, atau quad bayer, membuat sensor kamera smartphone bisa mendapatkan sensor piksel besar dengan ukuran sensor yang tidak "bengkak" sehingga tetap fit di ruang terbatas smartphone,” ujar Lucky.

Hasil megapiksel besar pada computational photography itu, menurutnya, membuat detail foto semakin kaya. ”Megapiksel besar seolah-olah seperti kemampuan kamera telphoto, tanpa mengubah area cakupan foto sehingga setiap sisi foto bisa memperoleh data yang lebih detail,” ujarnya.

Kemampuan megapiksel besar, Lucky menyebut, juga bisa menyumbang kemampuan hybrid zoom. ”Jadi dengan kemampuan software dan algoritma yang meningkat karena kemampuan SoC baru yang meningkat, MP besar sekarang sebenarnya bukan sekadar gimmick, tetapi memang bermanfaat, tinggal kemampuan vendor mengolah hasil datanya,” tuturnya.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak