alexametrics

Begini Cara Hilangkan Ketergantungan Anak Terhadap Dunia Digital

loading...
Begini Cara Hilangkan Ketergantungan Anak Terhadap Dunia Digital
Salah satu aksi peserta didik DMC dalam pertunjukan All About Love di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan. Foto/ist
A+ A-
JAKARTA - Perkembangan teknologi mengikis budaya bangsa yang senang berinteraksi sosial dengan lingkungan sosialnya. Tapi belakangan budaya itu mulai tergerus oleh teknologi, khususnya gadget.

Terlebih perkembangan teknologi digital saat ini mengambil peran besar dalam segala aspek kehidupan masyarakat, hingga kebanyakan orang memilih untuk asyik menikmati digitalisasi ketimbang membangun interaksi sosial. Bahkan interaksi sosial banyak dilakukan di media sosial ketimbang dunia nyata. Ini pun banyak dialami anak-anak sekarang, mereka cenderung lebih asyik main gadget ketimbang bermain dengan teman sebayanya.

Untuk itu diperlukan kiat tertentu untuk menumbangkan hegemoni gadget di pikiran anak-anak zaman now. Nah terobosan yang dilakukan Diverse Movement Crew (DMC), sebuah lembaga informal dengan fokus pengembangan kemampuan seni gerak seperti seni tari dan bela diri, bisa menjadi salah satu contoh solusinya. Mereka baru saja mengadakan pertunjukan bertajuk “All About Love” di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (27/10/2019).



Caroline Wong, Founder DMC mengatakan, melalui kegiatan ini pihaknya ingin mengingatkan kepada anak didik, sekaligus orang tua murid, akan pentingnya saling berbagi kasih, yang mungkin selama ini terabaikan karena masing-masing fokus kepada gadget atau aktivitas lainnya.

“Kita lupa mengasihi bumi kita, teman, ibu, bahkan kita yang tadinya punya hobi dengan musik kadang terlupakan. Jadi hal-hal seperti ini yang kita angkat, seperti remaja sekarang yang sangat tergantung dengan digital. Jadi tema yang kami angkat itu salah satunya membawa pesan, kita harus mencintai diri sendiri,” papar Caroline.

Sekolah tari DMC memiliki sejumlah kelas bervariatif seperti Dance Hip Hop, K-Pop, Gymnastics, MuayThai, Taekwondo dan juga Tricking, yang pada pertunjukan Anniversary ke-5 ini semua kelas ikut dilibatkan. “Ada sebanyak 16 performance, salah satunya yakni 'finale' di mana semua menari sama-sama. Dan pertunjukan kali ini kita juga berkolaborasi dengan Invasion yang merupakan K-pop community,” sebutnya.

Sekolah tari dan gerak yang berdiri sejak 25 Oktober 2014 itu memang ditujukan untuk memberi banyak ruang bagi anak-anak yang saat ini terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan. Ditambah bermain gadget, sehingga mereka jarang bergerak dan berbaur serta berinteraksi.

“Makanya kita ciptakan satu wadah, di mana anak-anak bisa berkumpul, dan mereka punya passion yang sama. Mereka bisa berbagi, mereka bisa bersosialisasi, dan mengembangkan bakat mereka dalam seni,” ujarnya.

Setiap murid yang tergabung dalam kelas DMC dibekali dengan aneka skills disetakan juga pembinaan karakter mereka agar mereka siap dan mampu beradaptasi, bersosialisasi dan juga berorganisasi dalam kehidupan bermayarakat.

Saat ini, DMC memiliki sekitar 500 murid mulai kategori anak usia 3 tahun hingga dewasa dari seluruh kelas yang berlokasi di kawasan Pluit Karang Barat, Jakarta Utara. “Uniknya kami, ada mami-maminya juga bukan cuma si anaknya. Si maminya yang mungkin dari kecil punya passion menari tapi belum tersalurkan, jadi saat ini. Tapi kebanyakan maminya kebih ke olahraga seperti MuayThai,” tutur Caroline.

Dia menambahkan, DMC terbuka untuk semua kalangan, hanya tinggal mendaftar dan memilih program yang sesuai dengan bakat serta minat anak.
(mim)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak