alexametrics

Lebih Berbahaya, Industri Harus Pikirkan Daur Ulang Baterai Bekas

loading...
Lebih Berbahaya, Industri Harus Pikirkan Daur Ulang Baterai Bekas
Ilustrasi Mobil Listrik. FOTO/ DOK SINDOnews
A+ A-
TOKYO - Kendaraan listrik digadang sebagai kunci utama dalam penyelesaian krisis iklim yang mengkhawatirkan. Jika kendaraan listrik ada secara masif di jalan raya, dapat mengurangi gas buang dan penggunaan energi fosil, yang dapat memanaskan atmosfer.

Tetapi jika kendaraan listrik semakin populer, industri harus menghadapi tantangan lingkungan lain terkait dengan baterai yang digunakan. Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Nature, baterai harus didaur ulang.

Sebab, menampung baterai bekas juga memiliki risiko. Maka solusinya adalah mempertimbangkan proses daur ulang dan penggunaan robot untuk merakit ulang baterai tersebut. Dengan begitu, kendaraan listrik dapat lebih ramah lingkungan, serta penggunaan baterai dapat lebih lama.



Melansir laman The Verge, Kamis (7/11/2019), lebih dari satu juta kendaraan listrik dijual di seluruh dunia pada 2017. Semua kendaraan tersebut diperkirakan menghasilkan 250.000 ton baterai lithium yang dibuang setelah dipakai.

Jika berakhir di tempat pembuangan sampah, baterai dapat menimbulkan reaksi kimia yang menyebabkan baterai tersebut panas, dan berpotensi meledak. Tetapi itu bukan satu-satunya alasan pelarangan pembuangan baterai.

Sama seperti pada ponsel, baterai kendaraan juga tidak dapat bertahan lama untuk menampung daya. Artinya pengguna harus membeli baterai baru. “Belum ada infrastruktur untuk mendaur ulang baterai kendaraan listrik,” kata Linda Gaines, dari Argonne National Laboratory, pusat penelitian yang dioperasikan oleh University of Chicago dan US Department of Energy.
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak