alexametrics

Soal Iklan Politik Pemilu AS 2020, Snapchat Cek dan Ricek Fakta

loading...
Soal Iklan Politik Pemilu AS 2020, Snapchat Cek dan Ricek Fakta
Ilustarasi Snapchat. FOTO/ Ist
A+ A-
WASHINGTON - Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020, Snapchat mengumumkan akan melakukan cek fakta pada semua iklan politik di platformnya.

Pengumuman ini muncul setelah beberapa platform sosial media seperti Facebook dan Twitter mendapatkan kritik atas kebijakan yang mereka lakukan terkait dengan iklan politik pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020.

Melansir dari BBC News, Spiegel mengatakan, Snapchat mencoba "menciptakan tempat" ruang iklan yang melibatkan kaum muda dalam politik. Semua iklan kampanye nantinya akan diperiksa oleh tim khusus di Snapchat.



Namun September lalu, layanan jejaring sosial Facebook justru mengatakan bahwa mereka tidak akan mengecek iklan politik yang ada pada platformnya. Facebook menegaskan bahwa mereka tidak akan ada pengecekan iklan politik menjelang pemilihan.

Kepala eksekutif Facebook, Mark Zuckerberg mengatakan platform itu akan memperlakukan semua jabatan politisi sebagai "konten yang layak untuk diberitakan" yang harus "dilihat dan didengar".

Sejak itu perusahaan yang berkantor pusat di California ini mendapat kecaman dari para politisi di Washington, dan sebagian dari mereka bahkan mengubah pendiriannya dengan menghapus konten palsu yang dipasang oleh salah satu kandidat politik.

Berbanding terbalik dengan Facebook, Twitter yang beberapa waktu lalu melarang iklan politik untuk tidak ditayangkan sama sekali mengklarifikasi kembali kebijakan ini minggu lalu. Mereka mengatakan bahwa sementara iklan yang menampilkan kandidat, partai politik atau pejabat pemerintah terpilih tidak diizinkan, namun iklan akan diizinkan tayang apabila telah melalui pemeriksaan oleh penerbit berita. (AUZA ASYANI)
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak