Waspada Malware Berkedok Pengiriman Paket Palsu

loading...
Waspada Malware Berkedok Pengiriman Paket Palsu
Ilustrasi Hacker. FOTO/ Ist
JAKARTA - Peneliti Kaspersky baru-baru ini menemukan serangkaian serangan spam dan phishing melalui cara mengeksploitasi pandemi virus corona dengan menargetkan orang-orang yang menunggu pengiriman paket.

Para scammers berkedok sebagai karyawan jasa pengiriman akan menginformasikan kedatangan paket, namun, untuk menerimanya, calon korban harus membaca atau mengonfirmasi informasi dalam file terlampir.

Saat calon korban membuka lampiran, malware secara langsung diunduh pada komputer atau ponsel mereka.

"Meskipun semua orang pasti ingin menerima pesanan mereka tepat waktu, penting untuk selalu waspada menilai dari mana email-email tersebut berasal dan memastikan alamat halaman web dengan tepat," kata Tatyana Shcherbakova, analis konten web senior Kaspersky.

Skenario terakhir yang bisa digunakan adalah backdoor bernama Remcos yang dapat hinggap di perangkat pengguna. Malware ini dapat mengubah PC menjadi bot, mencuri data, atau mengunduh malwaren tambahan.



Phisher juga membuat salinan halaman web yang sangat dipercaya untuk layanan pengiriman populer sebagai cara mendapatkan kredensial.

Para calon korban akan didorong agar memasukkan detail, seperti email dan kata sandi menuju situs web untuk melacak paket mereka.

Agar tidak menjadi korban spam, Kaspersky dalam keterangan resminya, Sabtu (2/5/2020), merekomendasikan beberapa hal yang bisa dilakukan:

- Perhatikan dengan cermat alamat pengirim: jika berasal dari layanan email gratis atau berisi karakter yang tidak berarti, kemungkinan besar itu palsu.

- Perhatikan teks dengan seksama: perusahaan terkenal tidak akan mengirim email dengan format atau tata bahasa yang buruk.



- Jangan membuka lampiran atau klik tautan pada email dari layanan pengiriman, terutama jika pengirim bersikeras dan mendesak Anda. Lebih baik untuk menuju langsung ke situs web resmi dan masuk ke akun dari laman tersebut
(wbs)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
KOMENTAR ANDA
Top