alexametrics

Minat Makin Tinggi, Persaingan Ponsel Gaming Memanas

loading...
Minat Makin Tinggi, Persaingan Ponsel Gaming Memanas
Minat Makin Tinggi, Persaingan Ponsel Gaming Memanas. (Koran SINDO. Danang Arradian).
A+ A-
TINGGINYA minat terhadap industri gim mobile di Indonesia sekaligus maraknya kompetisi e-sports akhirnya melahirkan kategori pasar baru: ponsel gaming. Inilah ponsel yang sejak awal dirancang untuk bermain gim. Apa bedanya?

Pasar gim dunia diperkirakan tumbuh dari USD137,9 miliar pada2018 menjadi lebih dari USD180,1 miliar pada 2021. Dari angka itu,menurut market researcher Newzoo, kawasan Asia Pasifik menjadi pendorong utama pertumbuhan berkelanjutan untuk industri gim dunia.

Di Indonesia, maraknya kompetisi e-sports menjadi penanda utama betapa antusiasnya konsumen terhadap pasar gaming. Mungkin memang sudah saatnya pasar ponsel di Indonesia disegarkan dengan kategori baru. Ya, inilah ponsel gaming yang menargetkan konsumen yang memang sangat intens untuk memainkan gim. Tidak hanya gim berat seperti PUBG Mobile atau Call of Duty: Mobile hingga gim kasual.



Namun, ketika ponsel kelas mid-end atau menengah pun sudah bisa melibas berbagai gim berat. Lalu apa value atau pembeda ponsel gaming dengan ponsel biasa? Apa pula bedanya dengan ponsel flagship? Dan konsumen seperti apa yang membutuhkan ponsel seperti ini?

VP Marketing Black Shark Global Yang Sun mengatakan, ponsel gaming memiliki banyak sekali pembeda dibanding ponsel biasa. “Kami me naruh perhatian pentingterhadap hal-hal detail yang memengaruhi kualitas bermain gim seseorang. Mulai dari kualitas layar, prosesor, bahkan software dan aksesori. Semua di rancang agar pengguna bisa ngegame dengan sangat nyaman,” sebutnya.

Saat ini BlackShark-perusahaan yang disuntik dana oleh Xiaomi-sangat serius masuk ke Indonesia lewat dua varian, yakni Black Shark 2 dan BlackShark 2Pro. Keduanya dibanderol masing-masing Rp5.999.000 (BlackShark 2 6+128GB) dan Rp7.999.000 (Black Shark 2 Pro termasuk gamepad), serta varian eksklusif Black Shark 2 Pro edisi terbatas Lava Orange seharga Rp8.999.000. Semua varian Black Shark akan tersedia di Mi.com dengan pre-order mulai 12 Desember 2019.

Roy Zhang, Overseas Business Manager Black Shark yang bertanggung jawab di pasar Indonesia, menyebut bahwa selain mendukung Qualcomm Snapdragon 855+, kedua ponsel Black Shark juga memiliki teknologi seperti sistem liquid cool, hingga gambar DSP (digital signal processor) yang independen digunakan untuk layar. “Semua teknologi dioptimalkan untuk ngegame,” ujarnya. Roy melihat pasar Indonesia sangat potensial dan Black Shark berniat serius untuk masuk ke pasar lokal.

Meski demikian, Black Shark bukan yang pertama. Itu karena sudah ada Asus ROG Phone II yang terlebih dulu dirilis pada awal Desember ini. Banderolnya kurang lebih sama, yakni Rp7 jutaan. Sudah menggunakan Snapdragon 855+,RAM 8 GB, memori internal 128 GB,serta layar 6,59 inci (2.340 x 1.080piksel, aspect ratio 19,5:9), memiliki refresh rate 120 Hz, serta lapisan kacaantigores Gorilla Glass 6. Asus ROGPhone II akan bisa dibeli di Indonesia pada 5 Desember mendatang diHotel Pullman, Central Park, Jakarta.

Baik Black Shark maupun Asus ROG Phone sebenarnya belumbenar-benar berkompetisi. Sebab,keduanya harus terlebih dulu sama-sama membentuk pasar ponsel gaming. Dan masing-masing belum ada track record yang positif.

Ini adalah awal bagi Black Shark di Indonesia. Namun, mereka sudah mendapat akselerasi tinggi lewat dukungan pemasaran dari Xiaomi yang sudah cukup mencengkeram pasar Indonesia. Integrasi branding, pemasaran, dan bahkan mungking after sales seperti ini akan menguntungkan Black Shark ke depannya. Dengan produk yang gesit dan ciamik, seperti Black Shark 2 dan Black Shark 2 Pro yang menyasar segmen lebih luas, jelas Black Shark memiliki kans sukses lebih besar.

Bagaimana dengan Asus ROGPhone? Bisa dibilang kans mereka sama tipisnya dengan Asus Zenfone6 yang baru saja dirilis. Asus pernah mendapat momentum lewat Zenfone. Namun, momentum itu hilang begitu saja karena mereka tidak bisa membawa produk ke pasar dengan cepat. Zenfone tidak lagi menjadi model yang diinginkan konsumen.

Bahkan, butuh waktu 6 bulan untuk membawa Zenfone 6 ke pasar Indonesia. Hal serupa terjadi juga dengan Asus ROG Phone. Jika membawa Zenfone saja, Asus Indonesia keteteran, bagaimana memberikan peace of mind bagi paragamer yang seharusnya lebih “rewel”? Sebab, ponsel gaming tidak hanya soal hardware, melainkan juga soal dukungan software, event, aksesori, dan masih banyak lagi. (Danang Arradian)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak