alexametrics

Alasan Tidak Semua Pengguna Traveloka Dapat Nikmati PayLater

loading...
Alasan Tidak Semua Pengguna Traveloka Dapat Nikmati PayLater
Ilustrasi e-commerce. FOTO/ Ist
A+ A-
JAKARTA - Agen perjalanan daring, Traveloka, memiliki layanan PayLater yang dapat diakses melalui aplikasinya. Namun, ternyata tidak semua penggunanya di Indonesia dapat merasakan layanan tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh President Traveloka Group Operations, Henry Hendrawan. Menurut dia, pelanggan yang ingin mengajukan layanan tersebut, cukup menggunakan KTP dan mengisi data lain yang diminta.

Setelah itu, sistem akan memvalidasi data tersebut, dan memutuskan apakah pengguna tersebut bisa mendapatkannya atau tidak.



Henry menjelaskan, pertimbangan tersebut tergantung dengan kredit scoring berdasarkan analisa yang dilakukan perusahaan.

"Jadi kita liat behavior-nya, dan menentukan tingkat risiko pengguna tersebut. Memang belum pasti semua pengguna bisa kita berikan limit kredit," jelas Henry.

Artinya, lanjut Henry, lebih sering pengguna bertransaksi dengan Traveloka, lebih besar pula kemungkinan pengguna tersebut dikonfirmasi perusahaan untuk mendapat PayLater.

Hingga saat ini, pertumbuhan Traveloka mengalami peningkatan yang pesat. Meski enggan menyebutkan angka pastinya, Henry menyebutkan bahwa ada sekitar 40 juta pengguna aktif Traveloka setiap bulannya.

Henry juga tidak menyebutkan jumlah pengguna layanan PayLater, dari jumlah total pelanggan tersebut. Tetapi dia mengatakan, layanan ini mayoritas digunakan untuk pembelian tiket perjalanan dan hotel, selebihnya untuk gaya hidup.

Sebelumnya, sebanyak 90% pengguna Traveloka membeli tiket mendekati waktu perjalanan. Imbasnya cukup negatif bagi pengguna yang tidak memiliki kartu kredit.

"Dengan adanya PayLater ini bisa membantu financial planning pelanggan dan pembelian tiket di last-minute," tandasnya.
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak