alexametrics

Aplikasi Kencan Jadi Modus Penjahat Siber Sebarluaskan Malware

loading...
Aplikasi Kencan Jadi Modus Penjahat Siber Sebarluaskan Malware
Ilustrasi Hacker. FOTO/ Ist
A+ A-
JAKARTA - Aplikasi kencan populer seperti tinder dan Badoo rupanya menjadi umpan yang digunakan untuk menyebarluaskan malware seluler atau mengambil data pribadi.

Kemudian, para penjahat siber ini akan memborbadir pengguna dengan iklan yang tidak diinginkan. Paling parah bahkan bisa menghabiskan uang pemilik akun tersebut untuk melakukan langganan berbayar yang mahal.

File tersebut tentu tidak ada hubungannya
dengan aplikasi yang sah, karena mereka hanya menggunakan nama dan terkadang desain layanan kencan otentik.



Analisis malware menggunakan lebih dari 20 nama aplikasi kencan populer dan kata kunci ‘dating’ menunjukkan sebanyak 1963 file unik telah disebar pada tahun 2019 dengan kedok aplikasi yang
sah.

Khususnya, dua pertiga dari mereka menyamar sebagai Tinder (1262 file) dan keenam lainnya berkaitan dengan Badoo (263 file).

Bahaya yang dibawa oleh file-file berbahaya ini dapat bervariasi, mulai dari Trojan yang dapat mengunduh malware lain dan mengirimkan SMS dengan biaya mahal, adware, sehingga pengguna dapat terganggu dengan pemberitahuan iklan.

Statistik juga menunjukkan bahwa minat terhadap topik “cinta” memang meningkat menjelang Hari Valentine. Misalnya, jumlah klik pada versi phishing dari situs PeopleMedia meningkat sebanyak dua kali lipat dalam waktu hampir sebulan sebelum Hari Valentine.

Untuk menggunakan aplikasi kencan dengan aman, Kaspersky dalam keterangan resmi yang SINDOnews terima, Jumat (14/2/2020) merekomendasikan agar para pengguna menghindari berbagi informasi pribadi terlalu banyak dengan orang asing.

Serta ,memastikan bahwa orang yang ditemui adalah nyata, karena penipu sering menggunakan profil palsu untuk melancarkan aksinya.
(wbs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak