Wacana Grab-Gojek Merger Makin Kuat Setelah Dapat Restu dari Bos Softbank

loading...
Wacana Grab-Gojek Merger Makin Kuat Setelah Dapat Restu dari Bos Softbank
ilustrasi angkutan online. FOTO/ IST
JAKARTA - Gojek dan Grab kembali dilaporkan sedang dalam perbincangan untuk merger. Hal tersebut didukung oleh para investor, termasuk salah satu investor kuat mereka yakni SoftBank.(Baca:Pemkot Jakarta Pusat Siapkan 25 Hotel untuk Tempat Isolasi OTG Covid-19)

Menurut laporan dari Financial Times, dukungan itu ada setelah pendiri SoftBank Masayoshi Son memberikan restu merger keduanya.

Diskusi untuk Gojek dan Grab merger ini muncul ketika keduanya sama-sama merugi karena pembatasan wilayah terkait virus Corona, terutama di Indonesia di mana mereka bersaing paling ketat.



Valuasi Gojek dan Grab turun di pasar sekunder di mana saham diperdagangkan secara informal.(Baca juga:Hotel Bintang Dua dan Bintang Tiga Disiapkan untuk Isolasi Mandiri Pasien COVID-19)

Sebelumnya, pembicaraan merger antara Grab dan Gojek sudah terjadi sejak enam bulan lalu, namun terhalang oleh restu dari SoftBank.

Saat itu, Son percaya bahwa layanan ride-hailing akan menjadi industri monopoli, di mana perusahaan dengan uang tunai paling banyak pada akhirnya mendominasi pasar tertentu, kata orang-orang yang dekat dengan miliarder Jepang itu.



Tapi Gojek terbukti tangguh terumata di Indonesia dengan kembali menerima suntikan dana dari Facebook dan PayPal, setelah sebelumnya juga didukung raksasa internet China Tencent dan Meituan-Dianping.

Melihat itu, Son pun saat ini berubah pikiran, ia bahkan memberi dukungan penuh atas aksi korporasi tersebut.

Menurutnya, merger Gojek dan Grab bisa memberikan sinergi yang luas dan memangkas biaya operasi kedua perusahaan agar valuasi mereka meningkat.

Para pengamat menilai bahwa merger Gojek dan Grab dapat meningkatkan profitabilitas kedua pihak. Khususnya akibat dampak pandemi corona dan kekhawatiran pada model bisnis ojek online.

“(merger) dapat secara signifikan mempercepat jalur Grab dan Gojek menuju profitabilitas”, kata Asad Hussain, seorang analis di PitchBook, dilansir dari Financial Times, Rabu (16/9/2020)

Sementara menurut Rashan Raj, seorang konsultan dari perusahaan konsultan pasar berkembang Redseer, sebelum Covid-19, kedua perusahaan telah bergerak menuju monetisasi yang lebih baik, seperti dengan menaikkan komisi yang mereka kenakan kepada pengemudi dan mengurangi subsidi pelanggan. Namun tren itu terganggu pandemi.

“Covid-19 mengganggu tren ini secara material. Kebangkitan ride-hailing bisa memakan waktu lama, ” ujarnya.

Sedangkan menurut analis teknologi Fitch Solutions, Kenny Liew, ragu bahwa merger keduanya benar dapat terwujud. Sebab merger Gojek dan Grab bisa terganggu oleh hukum anti-monopoli di Indonesia.

"Pada saat banyak ekonomi sedang berjuang, merger tidak mungkin mendapatkan daya tarik dengan regulator mengingat bahwa pekerjaan kemungkinan besar akan dipangkas," tutur Kenny
(wbs)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
KOMENTAR ANDA
Top