Ini Solusi Bosch agar Pabrik Otomotif Selamat dari Pandemi

loading...
Ini Solusi Bosch agar Pabrik Otomotif Selamat dari Pandemi
Digitalisasi pabrik merupakan salah satu jalan keluar terbaik agar aktivitas produksi tetap berjalan maksimal saat pandemi. Foto / IST
JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang masih terjadi di Indonesia memaksapabrikan otomotifmembatasi aktivitasnya. Alhasil kegiatan produksi terus menurun. Hal ini justru bisa diatasi dengan adanya digitalisasi aktivitas produksi.

Hal itu diungkapkan Dhuha Abdul, Business Development Manager of Connected Solution Bosch di Indonesia saat memperkenalkan inovasi terbaru Bosch dalam mendukung aktivitas produksi manufaktur di masa pandemi, Nexeed Industrial Application System.

Aplikasi ini menurut Dhuha merupakan gabungan perangkat lunak dan layanan berbasis teknologi Industri 4.0 dari Bosch, yang mampu merekam, memproses dan memvisualisasikan data dari rantai produksi, termasuk di sektor manufaktur otomotif.
Sistem ini menyediakan data secara kompatibel dan terstandarisasi, serta menyajikan informasi proses produksi dan kondisi pabrik dengan cepat. (Baca juga : Volkswagen Pesan 2.200 Robot untuk Produksi Mobil Listrik)

Dia melanjutkan digitalisasi akan sangat membantu industri otomotif dalam mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi di masa-masa pandemi. Berkat digitalisasi berbagai aktvitas konvensional seperti assesment, site visit tidak perlu lagi dilakukan. Manajer dan para pekerjanya dapat melihat status produksi, bahkan sudah bisa mengetahui tugas-tugas apa saja yang perlu segera atau akan dikerjakan berikutnya.



Pemantauan lini-lini produksi pabrik otomotif tidak perlu lagi dilakukan secara langsung di lapangan, tetapi bisa dari jarak jauh. Tentunya hal ini mendukung perusahaan dalam menjalankan protokol kesehatan demi keselamatan para pekerjanya selama pandemi Covid19 – dengan tetap menjaga kuantitas dan kualitas produksi.

Dhuha mengatakan digitalisasi memiliki tiga faktor yang sangat membantu industri otomotif di masa-masa pandemi. Faktor pertama melewati hambatan social distancing. Diketahui selama masa pandemi, penerapan social distancing sangat ketat bahkan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memaksa industri otomotif menghentikan aktivitas mereka. "Dengan adanya digitalisasi maka pabrik akan tetap bekerja dan termonitor dari jarak jauh," terangnya.

Digitalisasi menurutnya juga memberikan transparansi. Hal ini penting karena industri otomotif memang membutuhkan transparansi di semua lini. Misalnya ketersediaan material pendukung yang ada di gudang. Sebelum masa pandemi, ketersediaan material dicek oleh operator mulai dari stok, pengeluaran hingga proses. Hanya saja hal itu tidak bisa dilakukan saat Covid-19 seperti saat ini. Belum lagi masalah transparansi yang sulit dipertanggungjawabanlan. "Pengecekan secara langsung tidak perlu dilakukan lagi," tegasnya. (Baca juga : Tesla Akui Bemper Tesla Model 3 Mudah Copot karena Hujan)



Selain itu digitalisasi juga meningkatkan fleksibilitas kegiatan manufaktur. Dia mencontohkan saat PSBB dilaksanakan beberapa waktu lalu terjadi penurunan produksi yang kemudian berefek pada suplai produk. Namun begitu PSBB dilonggarkan dan produksi naik maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana menyalurkan produk itu ke masyarakat. "Semua itu akan terbantu melalui digitalisasi karena sudah memiliki konfigurasi data yang sangat banyak ketika digitalisasi diterapkan," ucapnya.

Diketahui hingga kini beberapa pabrikan otomotif di Indonesia memang masih mengurangi aktivitas produksi selama pandemi. PT Astra Daihatsu Motor (ADM) misalnya sudah mengurangi jumlah produksi mereka selama pandemi.
(wsb)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top