Beda dengan WHO, FDA Resmi Setujui Remdesivir sebagai Obat Pertama COVID-19

loading...
Beda dengan WHO, FDA Resmi Setujui Remdesivir sebagai Obat Pertama COVID-19
FDA resmi telah menyetujui Remdesivir sebagai obat pertama untuk pengobatan COVID-19. Keputusan ini bertentangan dengan temuan WHO. Foto/Ist
JAKARTA - Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA)resmi telah menyetujui Remdesivir sebagai pengobatan untuk COVID-19. (Baca juga: Studi WHO: Remdesivir Tidak Mempan Obati Covid-19)

Obat itu sekarang disetujui untuk digunakan pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit berusia 12 tahun ke atas, dan beratnya setidaknya 88 pon (40 kilogram), menurut pernyataan dari FDA.

Sebelumnya, badan tersebut mengizinkan dokter untuk memberikan Remdesivir kepada pasien yang dirawat di rumah sakit melalui otorisasi penggunaan darurat, atau izin sementara hanya diberikan "bila tidak ada alternatif yang memadai, disetujui dan tersedia," menurut badan tersebut seperti dikutip Live Science.

Sekarang, berdasarkan data dari tiga uji klinis, FDA telah sepenuhnya menyetujui Remdesivir. Persetujuan tersebut "didukung oleh data dari beberapa uji klinis yang telah dinilai secara ketat oleh badan tersebut dan merupakan tonggak ilmiah penting dalam pandemi COVID-19," kata Komisaris FDA Dr Stephen Hahn. (Baca juga: Remdesivir Enggak Mempan untuk Pasien COVID-19, Ini Buktinya!)



Pasien rawat inap yang beratnya antara 8 pon dan 88 pon (3,5-40 kilogram) atau yang berusia di bawah 12 tahun masih dapat menerima Remdesivir dengan izin penggunaan darurat, atas kebijaksanaan dokter mereka. "Uji klinis untuk kelompok ini masih berlangsung," kata FDA.

Menariknya, meski menjadi obat COVID-19 pertama yang disetujui FDA di AS, Remdesivir bukanlah pengobatan yang sangat efektif.

"Ini sama sekali bukan obat blockbuster atau obat ajaib," kata Dr Megan Ranney, profesor kedokteran darurat dan kesehatan masyarakat di Brown University di Rhode Island, kepada BuzzFeed News. "Kami memberikannya kepada pasien COVID yang dirawat di rumah sakit karena kami tidak memiliki yang lebih baik, yang membuat frustrasi."



"Ini bukan obat terlaris," timpal Dr Peter Lurie, mantan Komisaris Asosiasi dengan FDA dan sekarang Presiden Pusat Sains untuk Kepentingan Umum, dalam sebuah wawancara dengan The New York Times. "Ini bukan terobosan besar. Ini obat yang tampak meyakinkan bermanfaat bagi pasien, tapi ini bukan semacam obat ajaib."
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR ANDA
Top