Satam Belitung, Bukti Indonesia Simpan Banyak Kekayaan dari Angkasa

loading...
Satam Belitung, Bukti Indonesia Simpan Banyak Kekayaan dari Angkasa
Pulau Lengkuas dari Pantai Tanjung Kelayang, Belitung. FOTO/ DOK SINDOnews
JAKARTA - Kabar Josua Hutagalung yang dikabarkan kaya mendadak akibat batu meteor yang menimpa rumahnya pada bulan Agustus 2020 lalu menarik perhatian banyak pihak. BACA JUGA - Hebat! Tanpa Diperiksa LAPAN Tahu Detail Meteor yang Jatuh di Medan

Namun sebelum peristiwa ini sejatinya Indonesia punya daerah yang berhamparan batu meteor alias satam orang Belitung menamakannya. BACA JUGA - Kemungkinan Benda Angkasa yang Jatuh di Medan Lebih dari 1 Sangat Besar

Berkunjung ke Pulau Belitung (propinsi Bangka Belitung) adalah kesempatan tak terlewatkan, apalagi bagi peneliti geologi.

SINDOnews
mengutip dari berbagai sumber, Bongkah-bongkah batu granit Belitung berusia sangat tua, merentang masa sejak 250 juta tahun silam hingga 65 juta tahun silam.

Bongkahan-bongkahan granit tersebut dulunya terbentuk dalam batolit, yang merupakan bagian dapur magma, pada kedalaman berpuluh kilometer dari paras Bumi. BACA JUGA - Simpan Benda Angkasa Paling Dicari, Anak Medan Ini Usik Astronom Dunia



Pendinginan perlahan-lahan dan pengangkatan kerak Bumi secara gradual dalam masa berpuluh juta tahun kemudian membuat batolit terangkat ke paras Bumi untuk kemudian terkuak manakala erosi membuka selapis demi selapis tanah penutupnya.

Batu Satam pertama kali ditemukan di Pulau Belitung di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit pada 1973. Batu ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penambang timah beretnis China di kedalaman 50 meter.

Konon penamaan Batu Satam ini didasarkan pada nama penemunya yang terdiri dari dua suku kata, yaitu 'Sa' yang berarti pasir dan 'Tam' yang berarti empedu. Sehingga Satam memiliki arti empedu pasir. Batu Satam juga memiliki beberapa nama yakni Taktite dan Billitonit.



Istilah Taktite ini digunakan oleh para ilmuan yang meneliti Batu Satam, sedangkan istilah Billitonit digunakan oleh seorang peneliti dari Belanda bernama Wing Easton untuk menyebut "batu dari Belitung Timur".
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR ANDA
Top