Aplikasi Flokq Bantu Milenial Cari Hunian Sesuai Selera

loading...
Aplikasi Flokq Bantu Milenial Cari Hunian Sesuai Selera
Aplikasi Flokq menbantu milenial menemukan kamar hunian yang sesuai bujet dan kebutuannya. Foto/ist
JAKARTA - Urban Institutes Housing Finance Policy Center menyebutkan, hanya 1 dari 3 milenial di bawah usia 25 yang memiliki rumah pada akhir 2018. Ini berarti 8-9% lebih rendah daripada generasi sebelumnya dan di Indonesia angkanya mungkin jauh lebih rendah lagi.

Generasi milenial merupakan golongan demografis yang cenderung memilih tinggal bersama (co-living) karena tren konsumen umum sedang menuju ke arah ekonomi berbagi. Co-living menjadi lebih dari sekadar model perumahan, dan kini menjadi solusi untuk generasi lebih muda yang makin besar populasinya.

"Meningkatnya co-living datang dari berbagai faktor, di antaranya karena fasilitasnya yang lengkap dan senangnya tinggal bersama orang lain yang punya minat sama. Faktanya, orang cenderung ingin berteman dengan yang lain. Cukup dengan membuka pintu dan memulai pertemanan atau bahkan membuka usaha bersama," kata CEO Flokq, Anand Janardhanan, di Jakarta, Kamis (16/4/2020).

Co-living saat ini juga semakin menarik bagi generasi milenial, khususnya para digital nomad -mereka yang bekerja mengandalkan sambungan internet lantaran memungkinkan untuk berada di mana saja. Mereka juga tidak ingin selalu khawatir dengan pengaturan keuangan jika memutuskan membeli rumah, karena hal itu dianggap membatasi.



Itu sebabnya membeli rumah tidak menjadi prioritas Nita (25). Seperti banyak generasi milenial sekarang ini, dia memilih cara hidup yang fleksibel. Nita tidak ingin terikat pada satu lokasi, sedangkan membeli rumah berarti membatasi dirinya untuk tinggal di satu lokasi saja.

Dengan demikian menyewa apartemen dinilainya lebih baik daripada membeli rumah. "Pekerjaan saya menguras waktu, dan saya jarang menghabiskan waktu di rumah, sedangkan memiliki rumah itu butuh pemeliharaan yang lebih besar daripada apartemen. Lagipula, bagi orang yang suka travelling, saya merasa lebih aman meninggalkan apartemen kalau sedang bepergian,” papar Nita.

Joice (28) punya pendapat yang tak jauh berbeda. Memiliki rumah sendiri sama sekali bukan hal yang penting baginya. memilih untuk menyewa apartemen karena tidak ingin terkurung di satu tempat selama periode waktu tertentu. Jika pun suatu saat memiliki rumah, hal itu hanya akan dilakukannya untuk tujuan investasi.



Dia pun memilih menyewa apartemen melalui Flokq daripada membeli rumah, mengontrak, atau tinggal di kos-kosan premium. Apartemen Senopati di mana dirinya tinggal berada di lokasi strategis, stylish, dan memiliki komunitas yang menyenangkan.

“Harga yang kami bayar sebagai Flokqer itu sudah menyeluruh, termasuk harga untuk kamar dan semua isinya. Tidak ada biaya tambahan untuk internet, air, listrik, dan sejenisnya,” lanjut perempuan yang sebelumnya tinggal di London ini.

Kesibukan kerja juga menjadi alasan Nita untuk menyewa apartemen di Casa Grande, Kota Kasablanka, ketimbang menyicil rumah. Setelah membayar uang sewa, kebersihan rumah pun sudah diurus oleh pengelola. Maklum saja, sehari-hari ia sudah sibuk bekerja sehingga tidak mau direpotkan dengan pekerjaan rumah tangga.

“Flokq juga menemukan kamar yang sesuai budget saya. Saya ingin membayar satu harga tanpa biaya tambahan. Itu membuat saya nyaman mengatur keuangan bulanan,” kata perempuan yang bekerja sebagai marketing specialist ini.
(iqb)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top