alexametrics

Rusuh Rasial di AS, TikTok Dituduh Sensor Kreator Kulit Hitam

loading...
Rusuh Rasial di AS, TikTok Dituduh Sensor Kreator Kulit Hitam
Aplikasi TikTok kembali bermasalah karena dituduh menyensor suara dari kelompok masyarakat kulit hitam di AS dalam kaitannya dengan tagar Black Life Matters. Foto/Ist
A+ A-
WASHINGTON - Aplikasi China, TikTok, dikritik karena menyensor "suara" masyarakat kulit hitam terkait tagar Black Life Matters. Menurut laporan, TikTok merekomendasikan algoritma yang menindas video hasil kreator mereka. (Baca juga: Diduga Kumpulkan Data Anak, Politisi AS Desak FTC Investigasi TikTok)

TikTok pun meminta maaf dan sekarang mengambil serangkaian tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Laman Giz China menuliskan, TikTok akan meluncurkan "Komite Keragaman Pencipta" untuk mempromosikan pengakuan multikulturalisme dan kreativitas.

Mereka juga mengatakan, akan menilai kembali strategi peninjauannya, membangun program umpan balik “ramah pengguna” baru, dan mengembangkan portal pembuat konten baru untuk memperluas komunikasi antara pembuat konten dan menyediakannya ke peluang pembuat konten yang lebih luas.



TikTok menyatakan, mereka akan berpartisipasi dalam aksi hari "Black Out Tuesday" yang direncanakan oleh industri musik pada hari Selasa (waktu AS) untuk mendukung komunitas kulit hitam. Selain itu, TikTok menjanjikan dana bantuan Rp43,1 miliar untuk membantu organisasi nirlaba komunitas masyarakat kulit hitam.

Mereka juga berjanji akan menyumbangkan Rp14,4 miliar untuk memecahkan "masalah ketidakadilan rasial dan ketidaksetaraan". Namun, TikTok tidak mencantumkan nama organisasi tertentu yang bisa mendapatkan dana tersebut.

TikTok dan Kontroversi
Pada bulan Mei kemarin, banyak pengguna TikTok mulai mengubah gambar profil mereka menjadi simbol kekuatan komunitas kulit hitam. Ini sebagai tanda protes atas sikap platform yang tidak adil dalam menyensor konten yang berasal dari kreator kulit hitam.

Ada laporan pengguna TikTok akan berhenti mengikuti pengguna lain yang tidak mendukung gerakan ini. Namun, kreator "hitam" membutuhkan kawan dari komunitas lain untuk menyukseskan aksi ini.

“Kami sangat bersyukur bisa bertanggung jawab. Kami tahu bahwa dibutuhkan upaya untuk mencapai tempat kepercayaan, tetapi kami berkomitmen untuk melakukan bagian kami karena kami akan terus mengembangkan cara untuk mengakomodasi semua orang,” kata TikTok dalam pernyataan resminya.

Pada bulan Desember 2019, aplikasi mengakui bahwa mereka menekan video para kreator disabilitas dan gemuk. Video lain yang mendapatkan perlakuan tidak adil ini, termasuk pengguna autisme, down syndrome, dan tanda lahir. Bagi TikTok, para kreator video ini rentan terhadap cyber-bullying. Namun alasan itu dianggap publik bukan hal yang bisa membenarkan tindakan mereka.

Perusahaan induk TikTok ialah perusahaan China, ByteDance. Aplikasi ini mempunyai versi Mandarin, namanya Douyin. Di toko Apple, TikTok adalah aplikasi yang paling banyak diunduh di dunia di kuartal pertama, ketiga, dan keempat tahun 2019.

Aplikasi ini telah menjadi pusat berbagai kontroversi. Banyak organisasi, terutama di AS, yang tidak menggunakan aplikasi tersebut.
(iqb)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak