alexametrics

Peneliti LIPI Tegaskan Sinar UV-C 'Pembunuh Virus' Berbahaya Bagi Manusia

loading...
Peneliti LIPI Tegaskan Sinar UV-C Pembunuh Virus Berbahaya Bagi Manusia
Yusuf Nur Wijayanto, Peneliti bidang Teknologi Radio dan Optik, di Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan, ada tiga jenis sinar UV, yakni UV-A, UV-B, dan UV-C. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Sinar ultraviolet (UV) diyakini bagus untuk membunuh bakteri virus Corona. Namun, ada tiga jenis sinar UV, yakni UV-A, UV-B, dan UV-C. Di antara ketiganya ada yang baik dan tidak bagi tubuh manusia. (Baca juga: Rapid Test Harus Bayar, MPR Minta Pemerintah Berikan Subsidi)

Menurut penjelasan Yusuf Nur Wijayanto, Peneliti bidang Teknologi Radio dan Optik, di Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), UV-A dan UV-B alami dari Matahari masih punya manfaat bagi manusia seperti untuk kesehatan kulit, membantu pembentukan vitamin D, dan lainnya.

Sedangkan UV-C hampir sama sekali tidak sampai ke Bumi, karena ada lapisan ozon yang melindungi kehidupan manusia. Kecuali di daerah yang ozonnya sudah terkikis seperti di kutub.



Jika sinar UV-C terkena manusia, maka bisa mengakibat kanker kulit dan merusak mata jika sering terpapar. Sebab makhluk hidup, termasuk manusia terdiri dari sel-sel kecil yang ada di dalam tubuh.

“Jadi UV-C mempunyai sifat merusak untuk kehidupan,” ucap Yusuf, saat dihubungi SINDOnews, Rabu (24/6/2020).

Jika ingin membedakan antara ketiga sinar UV ini, lanjut Yusuf, dengan mengukur panjang gelombang mengunakan alat bernama optical spectrum analyzer atau optical wavelength meter.

Meski demikian, Yusuf mengakui bahwa sinar UV-C dapat melemahkan mikroorganisme termasuk bakteri, germ, virus. Pada beberapa bakteri dan virus sebelumnya, seperti SARS dan MERS, sudah banyak dilakukan pengujian dan hasilnya cukup baik, yakni mampu melemahkan virus sampai 99%.

“Sedangkan untuk COVID-19 yang relatif masih sangat baru ini belum ada data secara experiment, tetapi diprediksikan bisa menjadi lemah juga. Tentu dengan dosis pancaran UV-C yang berbeda dari masing masing virusnya,” jelas Yusuf.

Cara menghilangkannya, lanjut dia, pancarkan sinar UV-C pada suatu permukaan benda yang ingin disterilisasikan selama beberapa waktu. Ini demi memenuhi besar dosis minimal yang bisa melemahkan virus.

Secara ilmiah, panjang gelombang UV-C yang digunakan akan mendekati besar dari microorganisme yang ingin dilemahkan tersebut. “Sinar UV-C dapat digunakan untuk melemahkan virus di permukaan suatu benda yang terkena pancarannya sesuai dosisnya,” katanya kembali mengingatkan.
(iqb)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak