alexametrics

Ilmuwan Mengajarkan Tikus untuk Mencium Bau

loading...
Ilmuwan Mengajarkan Tikus untuk Mencium Bau
ilustrasi. tikus Dok.IST
A+ A-
LONDON - Para ilmuwan telah mengajarkan tikus untuk mencium bau yang tidak diajarkan sebelumnya. Penelitian ini menunjukkan bagimana otak mengidentifikasi aroma yang berbeda.

Tim peneliti mengklaim telah memecahkan kode bagaimana otak mamalia merasakan bau yang berbeda. Itu bisa membedakan dari ribuan bau yang ada sebelumnya. BACA JUGA - Dynamic Shield Pajero Sport Facelift Ujian Berat Fortuner 2020

"Menguraikan bagaimana otak membedakan bau adalah rumit karena tidak seperti indera lain seperti penglihatan. Kita belum mengetahui aspek paling penting dari bau individu," kata pimpinan peneliti Edmund Chong di NYU Langone Health, pusat kesehatan di Kota New York, dikutip dari Dailymail. BACA JUGA - Dynamic Shield Pajero Sport Facelift Ujian Berat Fortuner 2020



Dalam pengenalan wajah, otak dapat mengenali seseorang berdasarkan isyarat visual seperti mata. Pengenalan wajah melalui mata dapat dilakukan tanpa melihat hidung dan telinga. BACA JUGA - Beda Jauh dari yang Sekarang, Toyota Fortuner 2020 Terlihat di Dealer-Dealer

"Tapi ciri-ciri khusus ini, sebagaimana dicatat oleh otak, belum ditemukan untuk setiap aroma," tambahnya.

Hidung manusia diketahui memiliki jenis sel reseptor bau lebih sedikit dari pada tikus. Tikus memiliki indra penciuman lebih dari 1.200 jenis dan manusia hanya memiliki 350.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bagaimana molekul udara membawa berbagai aroma yang memicu sel reseptor di rongga hidung, yang disebut glomeruli. Setelah dipicu, sel reseptor mengirimkan sinyal listrik yang memungkinkan otak kita memproses informasi bau.

Untuk penelitian ini, tim peneliti menggunakan tikus yang telah direkayasa. Percobaan difokuskan pada bohlam penciuman tikus, yang terletak di belakang hidung pada hewan dan manusia.

Mereka melatih tikus untuk mengenali sinyal yang dihasilkan oleh enam glomeruli. Ini menyerupai pola yang ditimbulkan oleh bau.

Setiap perubahan memengaruhi persepsi tikus yang diukur dengan perilaku mereka. Peneliti mendefinisikan sebagai keakuratan yang digunakan pada sinyal bau sintetis untuk mendapatkan hadiah (air).

"Sekarang kita memiliki model untuk memecah waktu dan urutan aktivasi glomeruli, kita dapat memeriksa jumlah minimum dan jenis reseptor yang dibutuhkan oleh bohlam penciuman untuk mengidentifikasi bau tertentu," kata Dmitry Rinberg di NYU Langone Health.

Hasil penelitian ini mengidentifikasikan bahwa kode tersebut berjalan untuk pertama kalinya. Ini merespon bagaimana otak mengubah informasi sensorik menjadi persepsi sesuatu, dalam hal ini adalah bau.

"Ini menempatkan kita lebih dekat untuk menjawab pertanyaan yang sudah lama tentang bagaimana otak mengekstrak informasi sensorik dalam membangkitkan perilaku," tambahnya.
(wbs)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak