alexametrics

Masalah Sampah Plastik di Bumi dan Cara Penanggulangannya saat Pandemik

loading...
Masalah Sampah Plastik di Bumi dan Cara Penanggulangannya saat Pandemik
Penggunaan ulang plastik di masa pandemik saat ini menjadi kekhawatiran besar. Sebab, jika hanya sekali pakai saja, sampah plastik bisa menggunung di banyak negara di dunia.
A+ A-
JAKARTA - Sampah plastik masih menjadi ancaman global yang menjadi konsentrasi banyak negara. Jika didiamkan saja, plastik merupakan material yang membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terurai, sehingga penumpukan sampahnya tidak terelakkan. Ahli Sebut Virus Corona Bisa Bertahan 20 Tahun dalam Minus 20 Derajat

Berdasarkan laporan United Nations Environment Programme (UNEP) tentang plastik sekali pakai, lebih dari 400 juta ton plastik diproduksi pada 2015. BACA JUGA - Lawan Brompton, KTM dan Harley-Davidson Produksi Sepeda Gaya-Gayaan

Sementara itu, mengutip dari BBC, jumlah sampah plastik yang ada di dunia saat ini setidaknya sudah mencapai angka 300 juta ton dalam setahun. Artinya, jika dipadatkan, jumlah tersebut akan sama dengan 10 kali keliling bumi.



Lebih dari 60 negara mengambil langkah praktis dengan melakukan pembatasan penggunaan sampah plastik. Padahal, plastik sebenarnya bukan masalah utama, tetapi penggunaannya yang cenderung menjadi masalah.

Laporan asosiasi manufaktur plastik, PlasticsEurope menyebutkan, saat menjadi sampah, plastik punya tiga alternatif konversi, yakni bisa menjadi sumber energi, bisa menjadi campuran bahan baku kimiawi ataupun bahan baku untuk pengolahan mekanis.

Negara-negara di Eropa juga mulai menerapkan skema reproduksi serupa dari sampah plastik. Masih berdasarkan laporan PlasticsEurope tahun lalu, dari total 27,1 juta ton sampah plastik yang dikumpulkan di Benua Biru sepanjang 2016, sebesar 31,1% didaur ulang dan 41,6% diolah menjadi energi.

Upaya ini relatif berhasil. Sebab, membuat hanya sekitar 27,3% sampah plastik yang ditumpuk di tempat pembuangan akhir yang ada di Eropa.

Sementara di Tanah Air, pemerintah menargetkan untuk mengurangi sampah plastik di lautan sebesar 70% pada tahun 2025, dan mewujudkan Indonesia bebas sampah plastik pada 2040.

Merespon hal tersebut, mengutip laman Greenpeace, National Plastic Action Partnership (NPAP) Indonesia memuat sejumlah langkah progresif. Antara lain reduksi plastik menjadi prioritas utama.

“Reduksi ini perlu benar-benar diimplementasikan, mengingat regulasi yang mengaturnya belum memaksa produsen kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods atau FMCG), untuk mengubah kemasannya dengan menghindari plastik sekali pakai,” ujar Muharram Atha Rasyadi, Jurukampanye Urban Greenpeace Indonesia.

Kemudian mendesain ulang (redesign) produk plastik seharusnya lebih berfokus untuk penggunaan kembali (reuse), ketimbang untuk daur ulang (recycle).

Terlebih, mengingat belum adanya sistem pemilahan ideal dalam sistem pengelolaan sampah nasional, serta tingkat daur ulang dalam negeri yang masih terhitung rendah, yaitu sekitar 10%.

Lalu masalah sampah plastik impor belum menjadi perhatian pemerintah. Indonesia telah menjadi pengimpor sampah plastik yang akhirnya menambah sekitar 220.000 ton ke volume sampah nasional.

“Pemerintah harus menutup keran impor sampah plastik seperti negara Asia Tenggara lainnya. Pasalnya, sampah plastik impor ini didominasi sampah rumah tangga yang tidak bisa didaur ulang,” tegas Atha.

Plastik saat Pandemik

Penggunaan ulang plastik di masa pandemik saat ini menjadi kekhawatiran besar. Sebab, jika hanya sekali pakai saja, sampah plastik bisa menggunung di banyak negara di dunia.

Menjawab hal itu, lebih dari 115 ahli kesehatan dari delapan belas negara menyatakan bahwa konsep penggunaan kembali plastik aman dilakukan selama pandemi Covid-19.

Pernyataan mereka menyanggah pandangan pihak industri plastik yang menekankan bahwa konsep tersebut berpeluang besar terhadap penyebaran virus.

Para ahli kesehatan yang bergabung dengan Greenpeace Amerika Serikat dan UPSTREAM, menekankan bahwa plastik sekali pakai tidak lebih aman dari wadah yang dapat digunakan kembali (reusable).

Promosi plastik sekali pakai demi mengurangi peluang terinfeksi virus corona seharusnya tidak dilakukan karena itu akan berdampak negatif terhadap lingkungan, sistem air, dan pasokan makanan.

“Penggunaan plastik sekali pakai lebih buruk dibandingkan dengan penggunaan yang aman dari kantong, wadah, dan peralatan yang dapat digunakan kembali,” kata Dr. Mark Miller, mantan direktur penelitian di Institut Kesehatan Nasional – Fogarty International Center.
(wbs)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak