Dacia Spring, Mobil Prancis yang Dibenci Buruh Prancis

loading...
Dacia Spring, Mobil Prancis yang Dibenci Buruh Prancis
Dacia Spring dibuat di China atas kerja sama Renault dan Dongfeng. Foto / IST
JAKARTA - Dacia Spring jadi mobil yang paling dibenci buruh Prancis karena skema produksinya yang tidak melibatkan mereka. Diketahui Dacia Spring dibuat Renaultdi pabrik mereka yang ada di China. Masalahnya adalah Dacia Spring, mobil crossover mungil listrik itu justru dijual kembali ke pasar Eropa termasuk di Prancis sendiri.

"Kami benar-benar menentang produksi Spring di China. Ini sangat bertolak belakang dengan keinginan pemerintah yan berusaha mempertahankan lapangan pekerjaan dan industri otomotif di Prancis," ucap Frank Daoust, Juru Bicara Konferensi Buruh Demokratik Prancis. (Baca juga : Mobil-mobil Unik Pendukung Donald Trump saat Kampanye)

Dacia Spring, Mobil Prancis yang Dibenci Buruh Prancis


Buruh Prancis, khususnya buruh-buruh Renault menurut Frank Daoust justru kecewa dengan sikap Renault yang tetep kukuh memproduksi Dacia Spring di Prancis. Dacia Spring yang merupakan versi listrik dari Renault Kwid itu justru sebenarnya bisa dibuat di China. Alhasil mereka merasa telah diperalat oleh Renault guna mendapatkan bantuan dana dari pemerintah Prancis.



Diketahui pemerintah Prancis dibawah kendali Presiden Prancis, Emmanuel Macronmengucurkan dana pinjaman untuk pihak swasta sebesar USD5,9 miliar atau setara Rp85,4 triliun. Sebagian kecil dana bantuan itu diberikan ke produsen otomotif Prancis termasuk Renault.

Menurut Konferensi Buruh Demokratik Prancis, Renault mendapatkan bantuan karena perusahaan yang berdiri di Prancis pada 25 Februari 1899 itu setuju dengan perwakilan buruh akan mengaktifkan kembali dua pabrik yang telah vakum.

Selain masalah internal, para buruh di Prancis juga mempermasalahkan masalah isu lingkungan yang dibawa oleh Renault Spring. Seharusnya mobil lingkungan tidak perlu diproduksi di luar wilayah dimana mobil itu dipasarkan. Karena untuk mengirimkan mobil itu otomatis akan mengunakan jasa pengiriman yang tentunya akan meningkatkan polusi. Seharusnya menurut mereka, Renault, kembali fokus membuat mobil listrik di Prancis dan menjadikan negeri Menara Eiffel itu jadi pusat kesempurnaan elektrifikasi. "Sangat tidak bertanggung jawab membuat mobil itu diluar negara kami," ujar Frank Daoust. (Baca juga : Harga Mobil Listrik akan Sama dengan Mobil Konvensional)



Masalahnya Renault tidak sendirian membuat mobil-mobil listrik di China. Kompatriot mereka seperti BMW, Daimler dan Volvo bahkan sudah lama membuat mobil-mobil listrik di China dan kemudian menjualnya kembali ke pasar Eropa. Mereka bekerjasama dengan perusahaan mobil di China untuk memproduksi sekaligus langsung menjual mobil itu untuk pasar China juga.

Hal yang sama juga dilakukan Renault dimana mereka bekerjasama dengan Donfeng Motor Group membuat Dacia Spring. Renault beralasan pemilihan China sebagai pusat produksi mobil listrik karena memang teknologi mobil listrik memang tengah berkembang pesat di China dan mereka tidak ingin ketinggalan dengan produsen otomotif lainnya yang juga sudah berada di China memantapkan produksi mobil listrik mereka.

Untuk informasi Dacia Spring merupakan versi listrik dari Renault Kwid. Mobil Renault Kwid juga dipasarkan di Indonesia dengan bendera Maxindo Renault Indonesia.
(wsb)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top